VIVA –Pernah merasa galeri ponsel penuh dengan ribuan foto yang tidak pernah dilihat lagi? Atau mungkin laptop Anda menyimpan ratusan dokumen, tangkapan layar, video, hingga file unduhan yang sebenarnya sudah tidak dibutuhkan? Jika iya, Anda tidak sendirian.
Fenomena ini dikenal sebagai digital hoarding, yaitu kebiasaan menimbun berbagai file digital tanpa pernah benar-benar menghapus atau mengelolanya. Meski terlihat sepele, kebiasaan ini ternyata semakin umum terjadi di era digital saat ini.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Berbeda dengan menimbun barang fisik di rumah, digital hoarding sering kali tidak disadari. Alasannya sederhana karena ruang penyimpanan digital terasa tidak terlihat sehingga banyak orang menganggapnya tidak menimbulkan masalah.
Padahal, setiap hari kita terus menghasilkan data baru. Mulai dari foto makanan, video liburan, percakapan di aplikasi pesan, dokumen pekerjaan, hingga konten yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI). Akibatnya, jumlah data yang tersimpan terus bertambah dari waktu ke waktu.
Bukan Hanya Individu, Perusahaan Juga Mengalaminya
Jika satu orang saja dapat menumpuk ribuan file, bayangkan apa yang terjadi pada sebuah perusahaan yang memiliki ratusan hingga ribuan karyawan.
Setiap hari perusahaan menghasilkan dokumen, laporan, data pelanggan, rekaman transaksi, hingga data operasional dalam jumlah sangat besar. Belum lagi penggunaan AI dan analisis data yang kini semakin luas di berbagai sektor industri.
Menurut Synology, meningkatnya adopsi AI, analisis big data, dan digitalisasi operasional membuat volume data yang dihasilkan sektor bisnis melonjak ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Infrastruktur data kini tidak lagi sekadar berfungsi sebagai tempat penyimpanan, tetapi telah menjadi fondasi utama operasional bisnis sehari-hari.
Kondisi inilah yang mendorong perusahaan untuk mulai memikirkan strategi pengelolaan data yang lebih efisien.
Data Lama Perlu Dikelola dengan Cerdas
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sama seperti kita membersihkan lemari yang penuh barang tidak terpakai, perusahaan juga perlu mengelola data yang terus menumpuk.
Menariknya, tidak semua data harus selalu disimpan di penyimpanan utama yang berkecepatan tinggi. Data lama yang jarang diakses, seperti arsip dokumen tahunan atau file lama, dapat dipindahkan ke media penyimpanan yang lebih ekonomis sehingga ruang utama dapat digunakan untuk data yang masih aktif digunakan.
Halaman Selanjutnya
Untuk menjawab tantangan tersebut, Synology baru saja meluncurkan PAS7700 di Indonesia, sebuah sistem penyimpanan data enterprise yang dirancang untuk membantu perusahaan mengelola lonjakan data di era AI. Sistem ini dikembangkan untuk mendukung pemrosesan data berskala besar, menjaga operasional tetap berjalan tanpa gangguan, sekaligus membantu perusahaan mengoptimalkan penggunaan kapasitas penyimpanan mereka.

2 weeks ago
12














:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6284541/original/079194300_1779159392-unnamed__42_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5575090/original/094355400_1778037587-cropped-6b94bc59-8fb4-4b76-874b-71a6a7262057.jpg)