Survei OJK Sebut Bank di Indonesia Masih Tahan Banting di Tengah Gejolak Politik dan Ekonomi Global

4 hours ago 2

Senin, 9 Maret 2026 - 21:31 WIB

Jakarta, VIVA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai ketahanan sektor perbankan Indonesia masih terjaga dan diproyeksikan tetap solid pada awal tahun 2026. Hal tersebut tercermin dalam hasil Survei Orientasi Bisnis Perbankan OJK (SBPO) triwulan I-2026 yang menunjukkan optimisme pelaku industri terhadap kinerja perbankan ke depan.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyampaikan bahwa hasil survei menunjukkan prospek kinerja bank yang relatif kuat meski di tengah tantangan global. Survei tersebut dilakukan pada Januari 2026 dengan melibatkan 93 bank responden yang mewakili 94,17 persen dari total aset bank umum berdasarkan data Desember 2025.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Keyakinan terhadap kinerja industri perbankan tercermin dari Indeks Orientasi Bisnis Perbankan (IBP) triwulan I-2026 yang tercatat sebesar 56 atau berada pada zona optimis. Optimisme ini didorong oleh proyeksi pertumbuhan bisnis perbankan serta keyakinan bahwa bank masih mampu mengelola berbagai risiko yang muncul di tengah ekspektasi meningkatnya inflasi dan potensi pelemahan nilai tukar.

Di sisi lain, proyeksi kondisi makroekonomi justru menunjukkan kehati-hatian. Indeks Ekspektasi Kondisi Makroekonomi (IKM) pada triwulan I-2026 tercatat sebesar 45 atau berada pada zona pesimis. Penurunan indeks ini dipengaruhi oleh perkiraan meningkatnya inflasi dan pelemahan nilai tukar.

Tekanan inflasi diperkirakan dipicu oleh faktor musiman seperti bulan Ramadhan, perayaan Idul Fitri, serta Tahun Baru Imlek yang biasanya mendorong kenaikan harga barang dan jasa. Selain itu, terdapat faktor low based effect dari tahun sebelumnya ketika pemerintah memberikan diskon tarif listrik yang tidak lagi berlaku pada triwulan pertama tahun ini.

Nilai tukar rupiah juga diperkirakan mengalami tekanan akibat meningkatnya ketegangan geopolitik global. Dalam sepekan terakhir, tensi geopolitik meningkat menyusul eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran setelah Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke Teheran. 

Dampaknya mulai terlihat di pasar keuangan Asia yang mengalami penurunan akibat aksi panic selling investor. Meski demikian, prospek ekonomi domestik dinilai masih cukup kuat. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tetap terakselerasi, terutama didorong oleh meningkatnya konsumsi masyarakat pada triwulan pertama tahun ini.

Halaman Selanjutnya

Dari sisi risiko perbankan, mayoritas responden survei menilai kondisi masih terkendali. Hal ini tercermin dari Indeks Persepsi Risiko (IPR) sebesar 57 yang berada di zona optimis. Penilaian tersebut didorong oleh keyakinan bahwa kualitas kredit masih terjaga serta posisi devisa perbankan yang relatif kuat.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |