Tak Mau Dianggap Gagal, Jadi Alasan Trump Buru-Buru Ingin Akhiri Perang dengan Iran?

5 days ago 10

Sabtu, 9 Mei 2026 - 08:00 WIB

VIVA –Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberi sinyal bahwa kesepakatan dengan Iran bisa tercapai dalam beberapa hari ke depan. Namun apa yang sebenarnya memicu AS ingin segera mengakhiri perang dengan Iran?

Apakah hal ini dipicu oleh tekanan ekonomi dan politik dalam dan luar negeri AS atau justru murni karena keinginan Trump untuk meredakan konflik?

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sejumlah analis menilai dorongan untuk mengakhiri perang karena AS saat ini tengah menghadapi tekanan ekonomi dan politik yang semakin besar.

Lonjakan harga bahan bakar, ketegangan dengan negara-negara Teluk, kritik dari dalam negeri, hingga rencana pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping membuat ruang gerak pemerintahan Trump semakin sempit, sementara konflik terus mengguncang pasar energi global.

“Trump memang terlihat ingin segera mengakhiri perang dengan Iran, tetapi ada banyak kendala besar yang harus dihadapi,” kata Evan Cooper, analis riset di Program Reimagining US Grand Strategy, Stimson Center, kepada Anadolu dikutip Sabtu 9 Mei 2026.

Menurut Cooper, Trump mendapat tekanan di dalam negeri agar tidak terlihat lemah dengan memberikan terlalu banyak konsesi kepada Iran, terutama terkait pengaruh Teheran di Selat Hormuz dan masa depan program nuklirnya.

“Selain itu, ada perbedaan kepentingan antara negara-negara Teluk dan Israel yang membuat jalan menuju kesepakatan damai jangka panjang semakin rumit,” ujarnya.

Sementara itu, Fox News pada Rabu melaporkan bahwa Trump yakin kesepakatan dengan Iran bisa diselesaikan dalam waktu satu minggu. Namun sehari setelahnya, Iran dan Israel kembali saling serang di dekat Selat Hormuz, menunjukkan betapa rapuhnya proses diplomasi yang sedang berjalan.

Analis kebijakan luar negeri AS, Jack Clayton, menilai gaya negosiasi Trump justru memperumit upaya meredakan konflik.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Dalam negosiasi memang biasa ada tuntutan tinggi di awal sebelum akhirnya turun ke titik kompromi. Tapi sikap keras Trump ikut berkontribusi terhadap pecahnya perang ini dan bisa memicu konflik kembali jika kedua pihak tidak mencapai kompromi,” ujarnya.

Clayton juga mengatakan tantangan politik terbesar Trump adalah bagaimana mengakhiri perang tanpa membuat operasi militer AS terlihat gagal.

Halaman Selanjutnya

Para analis menyebut Trump kini berada dalam posisi sulit yakni ingin mengakhiri konflik, tetapi juga tidak ingin terlihat mundur soal program nuklir Iran.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |