Tanpa Plastik, Harga Belanja Bisa Naik 21 Persen, Ini Hitungannya

4 hours ago 2

Kamis, 16 April 2026 - 17:15 WIB

Jakarta, VIVA – Kenaikan harga bahan baku plastik global mulai berdampak pada berbagai sektor, termasuk harga barang kebutuhan sehari-hari. Di saat yang sama, dorongan untuk mengurangi penggunaan plastik terus meningkat. 

Sejumlah pelaku industri menilai plastik masih berperan dalam menjaga efisiensi distribusi dan ketahanan produk. Namun, penggunaan plastik juga terus ditekan karena alasan lingkungan, sehingga muncul kebutuhan untuk mencari alternatif yang lebih berkelanjutan tanpa mendorong kenaikan harga.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Studi terbaru dari American Consumer Institute menyoroti potensi dampak ekonomi dari penghapusan plastik kemasan. Laporan berjudul 'Material Substitution Costing Analysis' yang dilakukan oleh Calvin Lakhan menunjukkan adanya potensi kenaikan harga yang signifikan.

“Plastik juga menjadi salah satu alasan utama mengapa barang konsumsi tetap terjangkau dan mudah diakses,” ujar Presiden dan CEO ACI Tirzah Duren, sebagaimana dikutip dari Yahoo Finance, Kamis, 16 April 2026.

Hasil studi tersebut menyebutkan bahwa penghapusan plastik kemasan dapat mendorong kenaikan harga bahan kebutuhan hingga 21,6 persen. Secara rata-rata, biaya belanja keluarga diperkirakan bertambah sekitar US$60,75 per kunjungan.

Kenaikan harga ini dipicu oleh berbagai faktor, seperti biaya material pengganti yang lebih tinggi, peningkatan ongkos distribusi, serta risiko kerusakan produk yang lebih besar tanpa kemasan plastik. Selain itu, perubahan dalam proses produksi juga membutuhkan investasi tambahan.

Dalam simulasi sederhana pada kebutuhan sarapan, dampaknya juga terlihat jelas. Penggantian plastik pada produk seperti susu, bacon, dan buah beku disebut dapat meningkatkan biaya hingga 24,5 persen atau sekitar US$6,34 per belanja.

Beberapa kategori produk diperkirakan mengalami kenaikan harga cukup tinggi, antara lain susu yang bisa naik hingga 38,3 persen, minuman bersoda hingga 55,1 persen, serta daging dan makanan beku sekitar 15 hingga 28 persen.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Meski demikian, temuan ini berbasis simulasi dan asumsi tertentu, termasuk skenario penghapusan plastik secara luas tanpa adanya solusi alternatif yang lebih efisien. Karena itu, hasilnya perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas.

Studi juga mencatat bahwa kenaikan harga berpotensi lebih terasa bagi rumah tangga berpenghasilan rendah hingga menengah, karena porsi pengeluaran untuk kebutuhan pokok lebih besar.

Halaman Selanjutnya

“Ini menyangkut kemampuan keluarga untuk membeli sarapan, bahan makanan, dan kebutuhan rumah tangga dasar,” ujar Tirzah Duren. “Keterjangkauan harus tetap menjadi fokus utama dalam setiap pembahasan tentang kemasan dan keberlanjutan.”

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |