Terungkap, Erdogan Jegal Operasi Rahasia Mossad dan CIA Gulingkan Rezim Iran

7 hours ago 3

loading...

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (kanan) disebut sebagai aktor yang menjegal operasi rahasia Mossad dan CIA dalam upaya menggulingkan rezim di Iran. Foto/Harici

TEHERAN - Surat kabar Inggris, The Telegraph, mengungkap bahwa Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menjadi aktor yang menjegal operasi rahasia Mossad dan CIA dalam upaya menggulingkan rezim di Iran. Rencana dua badan intelijen itu adalah memicu pemberontakan bersenjata kelompok Kurdi melawan Iran.

Laporan itu mengutip para pejabat yang mengetahui masalah tersebut. Menurut laporan itu, pada Februari, saat berkunjung ke Gedung Putih, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengusulkan serangan terhadap perbatasan barat Iran oleh pasukan yang terdiri dari ribuan milisi Kurdi dari Pemerintah Regional Kurdistan (KRG) di Irak, dengan dukungan udara AS, sebagai formula untuk menggulingkan pemerintah Iran.

Baca Juga: Iran Tangkap 21 Tentara Bayaran Mossad

Dalam operasi yang dikembangkan Mossad (badan intelijen Israel) dan dibahas bersama CIA (badan intelijen Amerika Serikat) tersebut, para milisi Kurdi direncanakan menyeberang dari wilayah Kurdistan Irak ke Iran untuk memicu pemberontakan yang akan menggulingkan pemerintah Iran selamanya.

Menurut informasi yang diperoleh The Telegraph, Erdogan, yang tidak senang dengan kemungkinan kehadiran pasukan Kurdi bersenjata di kawasan tersebut, turun tangan dan pada akhirnya memaksa Israel dan Amerika Serikat (AS) menghentikan operasi rahasia tersebut.

Seorang pejabat mengatakan, “Beberapa kondisi tersebut tidak terwujud, karena alasan yang tidak akan saya jelaskan secara rinci di sini. Hal ini bukan disebabkan oleh kurangnya antisipasi, melainkan karena kegagalan operasional atau keputusan yang diambil.”

Menurut sumber-sumber Israel dan negara-negara Teluk, Erdogan, yang dipahami sebagai salah satu pemimpin dunia yang paling dipercaya Presiden AS Donald Trump, mengatakan kepada presiden AS bahwa dirinya tidak akan menoleransi kemerdekaan Kurdi di mana pun di kawasan tersebut.

Setelah mengetahui rencana tersebut, Erdogan khawatir bahwa mempersenjatai milisi Kurdi akan menyebabkan sejumlah besar kelompok yang menjadi lawan politiknya berubah menjadi kelompok bersenjata dan berbahaya di perbatasan timur Turki.

"Intervensi Erdogan berkontribusi pada kegagalan salah satu upaya paling ambisius untuk melakukan pergantian rezim dalam perang ini, yang berubah menjadi sebuah kubangan dan gagal mencapai tujuannya," tulis The Telegraph, dalam laporannya, Senin (17/8/2026).

Trump selama ini mengeklaim bahwa pergantian rezim Iran telah dilakukan dua kali dan bahwa pemerintahan baru jauh lebih “masuk akal” dibandingkan pemerintahan sebelumnya.

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |