Jakarta, VIVA – Pasar logam mulia memasuki fase berbeda setelah periode lonjakan dan penurunan harga yang ekstrem. Jika Januari diwarnai euforia harga, Februari justru terasa seperti fase “pemulihan” yang penuh kehati-hatian.
Sebagaimana diketahui, harga emas sempat menembus US$5.300 per ons atau sekitar Rp89 juta, sementara perak mendekati US$120 per ons atau sekitar Rp2 juta, sebelum akhirnya terkoreksi tajam dan mulai stabil.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Pergerakan liar itu memicu dampak berantai, terutama bagi toko koin dan logam mulia. Bukannya kekurangan barang, mereka justru “kebanjiran” emas dan perak dari masyarakat yang ingin menjual di harga tinggi.
"Pergerakan harga ini telah menimbulkan banyak kerusakan di seluruh lini," ungkap analis logam mulia HSBC, James Steel, sebagaimana dikutip dari Business Insider, Senin, 9 Februari 2026.
Toko koin memainkan peran penting dalam peredaran emas dan perak fisik. Tempat inilah yang sering didatangi orang untuk menjual batangan, koin, atau perak bekas. Namun, saat harga melonjak, arus barang masuk membludak.
Tim Heuer dari University Coin & Jewelry di Wisconsin menceritakan pengalaman saat harga perak bergerak cepat. "Saat saya menulis ceknya, harga perak sudah turun US$3,50 sejak dia masuk ke toko," ujarnya.
Fluktuasi cepat seperti ini bisa langsung menggerus margin keuntungan. Selain itu, biasanya, sebagian besar logam yang dibeli toko akan dijual ke kilang untuk dilebur dan dicetak ulang. Namun kini banyak kilang mengalami antrean panjang bahan mentah.
Jarret Niesse dari Precious Metal Refining Services di Chicago mengatakan perusahaannya berhenti membeli perak bekas sejak harga menembus US$50 per ons atau sekitar Rp840 ribu.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Seluruh pergerakan perak yang gila ini, kami memilih menepi," ujarnya. "Ketika para pelaku di tingkat atas membuka pintu dan mulai menerima lebih banyak material, para pelaku di tengah seperti saya dan para pesaing akan mulai mengirim lagi."
Karena kilang membatasi pembelian, arus kas toko koin pun ikut tertekan. Selain itu, bisnis ini juga tidak cocok dibiayai utang jangka panjang karena harga logam bisa berubah drastis.
Halaman Selanjutnya
Agar tetap bisa melayani pelanggan tanpa merusak neraca keuangan, beberapa toko mulai membatasi jumlah pembelian dari satu orang per hari. Langkah ini membantu lebih banyak orang mendapat uang tunai, misalnya untuk bayar pajak tahunan atau biaya medis, sekaligus menjaga likuiditas toko.

11 hours ago
2












:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5483201/original/035595200_1769341364-WhatsApp_Image_2026-01-25_at_17.53.37.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5256901/original/039184800_1750294371-ChatGPT_Image_Jun_19__2025__07_35_10_AM.jpg)




