Transformasi PSG Bersama Luis Enrique: Dari Kumpulan Ego Menjadi Penguasa Eropa Kontemporer

2 weeks ago 14

Minggu, 31 Mei 2026 - 12:00 WIB

Budapest, VIVA – Rangkaian performa impresif tanpa kekalahan milik Arsenal di Liga Champions musim ini akhirnya resmi terhenti. Adalah raksasa Prancis, Paris Saint-Germain (PSG), yang menjadi batu sandungan utama sekaligus menggagalkan mimpi The Gunners untuk mengangkat trofi Si Kuping Besar untuk pertama kalinya sepanjang sejarah klub.

Melalui laga dramatis sepanjang 120 menit di Puskas Arena, Budapest, Hungaria, PSG sukses mempertahankan takhta Eropa mereka setelah menang 4-3 lewat babak adu penalti. Drama tos-tosan ini menjadi yang pertama di final Liga Champions dalam satu dekade terakhir sejak Derby Madrid pada 2016 silam. Arsenal harus gigit jari setelah sepakan penentu dari bek mereka, Gabriel Magalhaes, melambung tinggi di atas mistar gawang.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sebelumnya, Arsenal besutan Mikel Arteta sempat mengejutkan lewat gol cepat Kai Havertz di awal babak pertama. Namun, efektivitas serangan PSG membuahkan hasil di babak kedua setelah Ousmane Dembele menyamakan kedudukan 1-1 melalui titik putih.

Dominasi Mutlak Les Parisiens

Meski laga harus ditentukan hingga adu penalti, statistik resmi UEFA menunjukkan bahwa PSG nyaris mendominasi semua aspek permainan. Skuad asuhan Luis Enrique mendikte jalannya pertandingan dengan mencatatkan 65 persen penguasaan bola, berbanding terbalik dengan Martin Odegaard cs yang hanya kebagian 25 persen (sisanya contested ball).

Pelatih PSG Luis Enrique

Photo :

  • REUTERS/Angelika Warmuth

Superioritas taktik PSG terpapar jelas melalui data berikut:

Indikator StatistikParis Saint-Germain (PSG)Arsenal

Total Tembakan (Percobaan)218

Tembakan Tepat Sasaran (On Target)41

Tusukan ke Sepertiga Akhir Lapangan44 kali2 kali

Masuk ke Area Penalti Lawan13 kali6 kali

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Skema 4-3-3 yang diterapkan Luis Enrique berjalan sangat dinamis. Trio lini tengah yang dihuni Joao Neves, Vitinha, dan Fabian Ruiz, disokong oleh duo bek sayap Nuno Mendes dan Achraf Hakimi, berhasil mematikan motor serangan sayap Arsenal, Bukayo Saka dan Leandro Trossard. Di saat yang sama, poros permainan Arsenal yang dikomandoi Declan Rice dan Myles Lewis-Skelly dipaksa bermain terlalu dalam untuk menjaga lini belakang.

Walau digempur habis-habisan, lini pertahanan kokoh Arsenal yang digalang William Saliba, Gabriel Magalhaes, serta performa apik kiper David Raya sempat membuat frustrasi lini depan PSG, sebelum akhirnya takdir pertandingan bergeser ke babak adu penalti.

Halaman Selanjutnya

Era Baru PSG: Runtuhnya Ego, Lahirnya Kerja Tim

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |