Jakarta, VIVA - Tsunami siap-siap hantam Uni Eropa. Hal tersebut diungkapkan dengan lantang oleh Utusan Kremlin, Kirill Dmitriev. Tsunami yang dimaksud adalah krisis energi parah akibat serangkaian guncangan politik.
"Tsunami krisis energi akan menghantam mereka (Uni Eropa)," katanya, seperti dikutip dari situs Russia Today, Sabtu, 23 Mei 2026. Ramalan ini muncul di tengah guncangan energi yang disebabkan oleh perang AS-Israel di Iran yang terus mengganggu pasokan di seluruh wilayah tersebut.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sejak dimulainya kampanye militer AS-Israel pada 28 Februari 2026, patokan harga minyak mentah global telah melonjak sekitar 50 persen, memaksa harga bahan bakar ritel dan gas alam grosir mencapai rekor tertinggi.
Konflik di Timur Tengah semakin memperburuk situasi kritis di negara-negara Eropa, yang telah secara drastis mengurangi impor energi Rusia sejak eskalasi konflik Ukraina pada 2022.
“Akan ada lebih banyak lagi karena tsunami krisis energi akan segera menghantam Uni Eropa/Inggris,” kata Dmitriev di X, menanggapi seorang jurnalis Swedia yang mencatat bahwa partai sayap kanan Jerman AfD hampir sebesar gabungan CDU dan SPD dalam jajak pendapat terbaru, menyebut pergeseran itu sebagai “gempa politik.”
Partai-partai arus utama tradisional di seluruh Eropa semakin kehilangan dukungan dibandingkan koalisi sayap kanan atau tengah-kanan dalam beberapa tahun terakhir.
Guncangan energi terkait Iran telah mendorong Inggris untuk mengeluarkan izin sementara untuk impor bahan bakar diesel dan jet asal Rusia guna menstabilkan pasar yang terguncang oleh gangguan navigasi melalui Selat Hormuz.
Jalur tersebut menangani sekitar 20 persen minyak dan LNG global. Keputusan tersebut mencerminkan langkah serupa yang dilakukan AS awal pekan ini dengan memperpanjang pengecualian sanksi untuk pembelian minyak Rusia melalui jalur laut dalam jumlah terbatas.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Beberapa pejabat di seluruh Uni Eropa telah menyerukan pemulihan hubungan energi dengan Rusia untuk mengatasi krisis tersebut. Namun, Komisi Uni Eropa menyatakan bahwa tidak akan ada kembali ke impor energi Rusia dan akan terus berupaya untuk sepenuhnya menghentikan penggunaan bahan bakar fosil Rusia pada 2027.
Awal tahun ini, Kirill Dmitriev mengatakan bahwa Uni Eropa "mau tak mau akan memohon" gas Rusia, karena harga energi diproyeksikan akan terus meningkat. Ia juga menyatakan bahwa blok tersebut adalah yang terakhir dalam antrean di antara konsumen energi Rusia karena Moskow memperluas proyek-proyeknya dengan negara-negara lain.
Rusia: Uni Eropa lagi Merana
Rusia menyebut kalau Uni Eropa (UE) mengalami kesulitan untuk mengisi fasilitas penyimpanan gas alam bawah tanahnya di tengah krisis Timur Tengah dan kenaikan harga pesat
VIVA.co.id
18 Mei 2026

5 hours ago
2
















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3432220/original/050867700_1618724332-hush-naidoo-yo01Z-9HQAw-unsplash.jpg)