Jakarta, VIVA – Perkembangan media digital terus melahirkan pola baru dalam cara masyarakat mengakses informasi. Jika sebelumnya media konvensional bergantung pada situs web, televisi, atau koran sebagai “rumah” utama distribusi konten, kini muncul fenomena homeless media yang berkembang lewat platform media sosial seperti Instagram, TikTok, YouTube, hingga Telegram dan Substack.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Rhenald Kasali, mengatakan bahwa bisnis homeless media berpotensi tumbuh secara berkelanjutan. Namun, ia menilai keberlangsungan media jenis ini tidak cukup hanya mengandalkan viralitas semata.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Secara bisnis, model ini bisa berkelanjutan tetapi dengan catatan penting yang bertahan bukan hanya yang viral melainkan yang berhasil membangun community trust dan diversifikasi pendapatan," katanya, sebagaimana dikutip dari siaran pers, Jumat, 15 Mei 2026.
Menurutnya, kemampuan membangun kepercayaan komunitas atau community trust menjadi faktor penting agar homeless media tetap relevan di tengah persaingan konten digital yang semakin ketat. Selain itu, media juga perlu memiliki sumber pemasukan yang beragam agar tidak terlalu bergantung pada satu model bisnis saja.
Rhenald menjelaskan, saat ini sumber pendapatan homeless media sudah berkembang dan tidak lagi hanya mengandalkan iklan. Berbagai model monetisasi mulai digunakan oleh para pelaku creator economy maupun media digital independen.
"Itu sebabnya creator economy pada tingkatan global diperkirakan menuju ratusan miliar dolar dalam beberapa tahun ke depan," tuturnya.
Ia menyebut, pemasukan homeless media kini dapat berasal dari sponsorship, membership, subscription, affiliate commerce, paid community, hingga consulting. Diversifikasi tersebut dinilai menjadi strategi penting untuk menjaga stabilitas bisnis di tengah perubahan pola distribusi konten digital.
Meski demikian, Rhenald mengingatkan bahwa tidak semua homeless media mampu bertahan dalam jangka panjang. Media yang hanya mengejar viralitas disebut rentan mengalami penurunan performa ketika algoritma platform berubah atau tren konten bergeser.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Hanya sedikit homeless media yang benar-benar sustainable. Banyak yang akhirnya bergantung pada algoritma platform. Ketika algoritma berubah, traffic bisa langsung jatuh," ujarnya.
Pendiri Rumah Perubahan itu juga menilai bahwa fenomena homeless media bukan sekadar tren sementara. Ia memandang perubahan ini sebagai bagian dari transformasi besar dalam industri media.
Halaman Selanjutnya
"Menurut saya, homeless media bukan sekadar tren sementara. Ia merupakan bagian dari transformasi," tegasnya.

5 hours ago
6











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364675/original/098242200_1759123308-padel_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5555113/original/019639800_1776143107-Mahasiswa_UI_diduga_lakukan_pelecehan_seksual__2_.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5556554/original/020780300_1776253850-BPJS_Kesehatan.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3301494/original/038090600_1605800346-Tips.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5030100/original/095728600_1732950329-ciri-ciri-urine-penderita-diabetes.jpg)
