Wamendagri Ribka Haluk Turun Langsung Kawal Perdamaian Konflik Suku di Wamena

3 weeks ago 8

Sabtu, 23 Mei 2026 - 16:44 WIB

Jakarta, VIVA – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Ribka Haluk, turun langsung dalam prosesi perdamaian konflik perang suku yang digelar di Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Jayawijaya, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, Sabtu, 23 Mei 2026.

Prosesi perdamaian tersebut ditandai dengan ritual adat patah panah, sebagai simbol berakhirnya konflik antara kedua belah pihak. Selain itu, dilakukan pula penandatanganan surat pernyataan damai yang disaksikan pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam sambutannya, Ribka menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat dan tokoh adat, yang telah membuka ruang perdamaian dengan penuh kerendahan hati dan jiwa besar.

“Saya tidak bisa bicara banyak. Saya mewakili pemerintah pusat yang hadir di kota ini. Sejak awal kami mengikuti seluruh tahapan dan semua yang dilakukan oleh pemerintah daerah maupun masyarakat,” kata Ribka dalam keterangannya, Sabtu, 23 Mei 2026.

Wamendagri Ribka Haluk.

Photo :

  • Dokumentasi Kemendagri.

Dia juga menyampaikan pesan dari Menteri Dalam Negeri yang mewakili Presiden Republik Indonesia, berupa apresiasi dan ucapan terima kasih kepada masyarakat Papua Pegunungan yang telah memilih jalan damai melalui pendekatan adat.

Sebagai perempuan adat Papua, Ribka mengaku terharu melihat penyelesaian konflik dilakukan secara adat oleh para tokoh dan masyarakat. “Saya menangis, tetapi saya bahagia karena orang-orang tua bisa menyelesaikan ini secara adat dengan jiwa besar,” ujarnya.

Ribka menegaskan, keamanan menjadi syarat utama dalam pembangunan daerah. Menurutnya, pemerintah tidak akan mampu menjalankan pembangunan secara maksimal, apabila kondisi keamanan tidak kondusif.

“Kalau keamanan tidak baik, maka pemerintah juga tidak bisa berbuat apa-apa. Daerah harus aman dulu baru kita bisa membangun,” kata Ribka.

Dia juga mengajak masyarakat untuk mengedepankan penyelesaian persoalan melalui jalur keluarga, tokoh adat, tokoh agama, dan pemerintah kampung sebelum berujung pada kekerasan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Jangan langsung selesaikan dengan cara-cara kekerasan. Sudah cukup,” ujarnya.

Di sisi lain, Gubernur Papua Pegunungan, John Tabo menyebut, perdamaian adat tersebut sebagai langkah penting untuk menghentikan siklus konflik antarsuku, yang terus berulang di wilayah Papua Pegunungan. Dia menjelaskan bahwa tradisi patah panah merupakan bagian penting dalam penyelesaian perang adat yang diwariskan leluhur.

Halaman Selanjutnya

“Hari ini kami melaksanakan satu tanda acara perdamaian lepas adat dengan mematahkan alat perang yaitu panah,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |