VIVA – Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU), HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur memberikan catatan terkait aspek tata bahasa dan akurasi kutipan pidato resmi pasca acara Munas-Konbes NU.
Ia menilai intelektual pesantren harus menjadi tolak ukur dalam aspek keagamaan. Pasalnya, banyak tradisi pesantren yang lekat dengan kajian kitab kuning, akurasi pelafalan teks Arab (kaidah nahwu dan sharaf)
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Berdasarkan hasil simak tayangan langsung, Gus Lilur memberikan catatan korektif terhadap khotbah yang disampaikan oleh Rais Aam PBNU, KH Miftahul Akhyar.
"Tulisan dan telaah ini merupakan bagian dari rekam jejak sejarah agar warga nahdliyin dapat menilai secara jernih kualitas figur kepemimpinan yang dibutuhkan untuk membawa PBNU ke depan," ujar Khalilur melalui keterangan tertulisnya, Minggu, 28 Juni 2026.
Ia menyoroti materi kutipan hadis terkait kemakmuran sebuah negeri yang dibacakan oleh Rais Aam. Ia mengidentifikasi bahwa teks tersebut bersumber dari kitab Nasihatul Muluk karya Imam Al-Ghazali, namun ia menyayangkan tidak disebutkannya sumber rujukan asli tersebut sepanjang pidato berlangsung.
Selain masalah rujukan, kekeliruan mendasar yang disoroti adalah kesalahan pelafalan tahun Hijriah pada durasi awal pidato. Saat bermaksud menyebutkan tahun 1448 Hijriah, struktur kalimat Arab yang terucap justru bermakna 14.048 Hijriah (arba‘ata ‘asyar alfan wa tsamaniyah wa arba‘in).
Menurut kaidah ilmu 'Adad dalam kitab Alfiyah Ibn Malik, penyebutan tahun yang tepat secara gramatikal Arab semestinya adalah tsamaniyah wa arba‘in wa arba‘imi’ah wa alf (dimulai dari satuan atau dari ribuan secara runtut).
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Di sisi lain, ia menjelaskan ada enam kekeliruan teknis Rais Aam membacakan draf naskah yang telah tersedia. Kekeliruan tersebut diidentifikasi mencakup empat kesalahan penempatan harakat kata dan dua kesalahan pada pelafalan kata.
Pada aspek kesalahan harakat, poin pertama terjadi saat Rais Aam melafalkan frasa bi badzlil was‘i yang semestinya dibaca badzlul wus‘i, sebuah frasa yang sangat populer dalam literatur usul fikih bab ijtihad. Kedua, pelafalan kalimat wa mulkuhum azmat dinilai kurang tepat, di mana bentuk yang benar berdasarkan konteks makna kepemimpinan adalah wa mallakahum azimmat.
Halaman Selanjutnya
Selanjutnya pada poin ketiga, penempatan harakat pada kata jaizun dinilai menyalahi kaidah nahwu sebagai objek kedua (maf'ul tsani), yang seharusnya dilafalkan jaizan. Keempat, terdapat kekeliruan sharaf pada lafal an anhi yang semestinya dibaca aninha karena diserap dari kata kerja dasar (fi'il mujarrad).

2 hours ago
2











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8004128/original/059258800_1780843343-word_media_image4.jpg)