5 M dari Pramono Buat Warga Jakarta agar Tetap Waspada Abu Vulkanik Anak Krakatau

2 hours ago 1

Minggu, 6 September 2026 - 13:41 WIB

Jakarta, VIVA – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo mengimbau kepada masyarakat di Ibu Kota untuk tetap tenang dan waspada terhadap abu vulkanik yang dihasilkan dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Ia mengatakan saat ini status Gunung Anak Krakatau sudah berada di level III.

"Khususnya kepada masyarakat jakarta, saya mengimbau untuk tetap tenang dan waspada. Saat ini gunung Anak Krakatau sudah level III atau siaga," kata Pramono dikutip dari akun instagram resminya, Minggu, 6 September 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia menjelaskan abu vulkanik Anak Krakatau telah menyebar ke beberapa wilayah di Indonesia, termasuk Jakarta. Maka itu, ia memberikan tips 5 M kepada warga Jakarta untuk mengantisipasi abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Pertama, ia meminta masyarakat untuk selalu menggunakan masker. Kedua, masyarakat juga diminta menutup pintu, jendela dan sumber air.

"Ketiga, membatasi aktivitas di luar ruangan, keempat membersihkan abu dengan membasahi terlebih dahulu dan kelima memantau informasi dari kanal resmi, serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi dengan baik," kata Pramono.

"Tetap waspada lindungi diri dan keluarga, mari bersama-sama Jaga Jakarta dengan menjaga diri kita dari abu vulkanik," sambungnya.

Sebagai informasi, Badan Geologi menyatakan pertumbuhan Gunung Anak Krakatau pascaerupsi pada tahun 2018 masih relatif kecil. Menurut Badan Geologi, secara morfologi, Gunung Anak Krakatau saat ini tidak berpotensi runtuh yang dapat memicu gelombang tsunami.

“Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 ini masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami,” ujar Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria dalam konferensi pers, Minggu, 6 September 2026.

Lana menjelaskan tidak setiap kejadian erupsi Gunung Anak Krakatau bakal memicu tsunami. Ia menyebut tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 utamanya berkaitan dengan keruntuhan sebagian tubuh gunung api ke laut dalam volume yang besar. Maka, bukan semata-mata karena erupsi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara jika membandingkan morfologi Gunung Anak Krakatau sebelum 2018 dan saat ini, terlihat perbedaannya. 

“Morfologi Gunung Anak Krakatau saat ini berbeda dibandingkan sebelum peristiwa 2018. Sebagian besar tubuh gunung pada sisi tertentu telah runtuh pada 2018,” kata Lana.

Halaman Selanjutnya

Pertumbuhan dan perubahan morfologi memang terjadi seiiring waktu. Pemetaan Badan Geologi menunjukkan dasar tubuh dan kawah utama Gunung Anak Krakatau tidak berubah signifikan dibandingkan pemetaan sebelumnya.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |