Tangani Karhutla Gambut 80 Hektare, Polda Sumsel Terapkan Metode Spiral dan Scanning

2 hours ago 1

Minggu, 6 September 2026 - 13:35 WIB

Jakarta, VIVA – Polda Sumatera Selatan terus mengintensifkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), khususnya pada kawasan bergambut. Tim Satgas Penanganan Karhutla Polda Sumsel melakukan pemadaman pada area terdampak sekitar 80 hektare di Desa Teluk Limau, Kecamatan Gelumbang, Kabupaten Muara Enim, Sabtu (5/9/2026), hingga malam hari.

Penanganan di lapangan dipimpin Dansatbrimob Polda Sumsel Kombes Pol. James Parlindungan Hutagaol, S.I.K., M.H. bersama personel yang tergabung dalam Satgas Penanganan Karhutla Polda Sumsel. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Berbeda dengan kebakaran pada lahan mineral, penanganan di kawasan gambut membutuhkan pola khusus karena bara api dapat bertahan dan merambat di bawah permukaan tanah. Berdasarkan kondisi lapangan, kedalaman gambut di lokasi diperkirakan mencapai satu hingga satu setengah meter.

Untuk mengantisipasi penjalaran api di bawah permukaan, tim menerapkan teknik penyiraman dan perendaman dengan metode spiral, yakni pemadaman dimulai dari bagian luar area menuju ke bagian dalam. Penyiraman dilakukan menggunakan jet pump dengan campuran air dan Formula Crossfire Polri.

Dansatbrimob Polda Sumsel Kombes Pol. James Parlindungan Hutagaol menjelaskan, pola tersebut dilakukan untuk terlebih dahulu menekan pergerakan bara di bawah lapisan gambut sebelum personel masuk ke titik-titik yang memiliki aktivitas panas lebih tinggi.

“Penyiraman dilakukan secara spiral dari luar menuju ke dalam. Tujuannya membatasi dan meredam pergerakan bara di bawah tanah sehingga potensi api merambat ke area lainnya dapat ditekan,” ujarnya.

Setelah tahap penyiraman dan perendaman, tim memberikan waktu sekitar dua hingga tiga jam agar cairan meresap ke lapisan gambut. Selanjutnya personel melakukan scanning terhadap sisa titik bara yang masih berpotensi kembali memicu kebakaran.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam tahapan scanning, petugas bergerak langsung mendekati titik-titik yang ditandai munculnya asap putih maupun bara. Lapisan gambut pada titik tersebut diurai menggunakan garpu, kemudian disiram menggunakan jet shooter backpack berisi campuran cairan pemadam.

“Bara kecil tetap harus ditangani karena dapat terbawa angin dan memicu api di area kering lainnya. Karena itu setelah perendaman, personel melakukan scanning satu per satu terhadap potensi titik bara yang tersisa,” jelasnya.

Halaman Selanjutnya

Untuk membuat penanganan lebih terukur, area terdampak seluas sekitar 80 hektare tersebut juga dipetakan berdasarkan tingkat aktivitas kebakaran. Tim membaginya menjadi tiga klaster, yakni zona kuning untuk area yang menunjukkan indikator asap, zona oranye untuk area dengan asap dan bara, serta zona merah untuk area yang menunjukkan asap, bara dan api yang muncul hingga permukaan.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |