Badan Geologi: Pertumbuhan Anak Krakatau Pasca 2018 Relatif Kecil

3 hours ago 1

Minggu, 6 September 2026 - 13:05 WIB

Jakarta, VIVA – Badan Geologi menyatakan pertumbuhan Gunung Anak Krakatau pascaerupsi pada tahun 2018 masih relatif kecil. Menurut Badan Geologi, secara morfologi, Gunung Anak Krakatau saat ini tidak berpotensi runtuh yang dapat memicu gelombang tsunami.

“Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 ini masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami,” ujar Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria dalam konferensi pers, Minggu, 6 September 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Lana menjelaskan tidak setiap kejadian erupsi Gunung Anak Krakatau bakal memicu tsunami. Ia menyebut tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 utamanya berkaitan dengan keruntuhan sebagian tubuh gunung api ke laut dalam volume yang besar. Maka, bukan semata-mata karena erupsi.

Sementara jika membandingkan morfologi Gunung Anak Krakatau sebelum 2018 dan saat ini, terlihat perbedaannya. 

“Morfologi Gunung Anak Krakatau saat ini berbeda dibandingkan sebelum peristiwa 2018. Sebagian besar tubuh gunung pada sisi tertentu telah runtuh pada 2018,” kata Lana.

Pertumbuhan dan perubahan morfologi memang terjadi seiiring waktu. Pemetaan Badan Geologi menunjukkan dasar tubuh dan kawah utama Gunung Anak Krakatau tidak berubah signifikan dibandingkan pemetaan sebelumnya.

“Meskipun demikian, perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi tetap dipantau secara intensif,” kata Lana.

Namun, dia mengatakan perlu diwaspadai lontaran material akibat aktivitas erupsi. Lana menyebut lontaran material ini bisa merusak peralatan yang berada dekat dengan pusat aktivitas dan membahayakan siapapun yang masuk ke zona terlarang. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Saat ini, aktivitas gunung berpotensi berflukuasi dan meningkat. Hal ini disebabkan gempa frekuensi rendah dan hibrid, harmonik, serta tremor masih terekam.

“Waktu, besar, dan bentuk erupsi berikutnya tidak dapat dipastikan secara tepat. Karena itu, evaluasi dilakukan secara berkelanjutan berdasarkan perubahan seluruh parameter pemantauan,” ucapnya.

Gunung Anak Krakatau Erupsi

Badan Geologi Ungkap Potensi Bahaya di Balik Erupsi Berulang Anak Krakatau

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengungkapkan, peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau ditandai dengan frekuensi erupsi yang berulang

img_title

VIVA.co.id

6 September 2026

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |