5 Mitos Seputar Mobil yang Masih Banyak Dipercaya

3 hours ago 1

Minggu, 5 Juli 2026 - 21:30 WIB

Jakarta, VIVA – Perkembangan teknologi otomotif membuat cara merawat mobil ikut berubah. Sayangnya, masih banyak pemilik kendaraan yang berpegang pada anggapan lama, padahal sebagian di antaranya sudah tidak lagi sesuai dengan teknologi yang digunakan mobil modern.

Beberapa mitos tersebut bahkan bisa membuat biaya perawatan menjadi lebih besar atau membuat pengemudi mengambil keputusan yang kurang tepat. Karena itu, penting untuk memahami mana kebiasaan yang masih relevan dan mana yang sebaiknya mulai ditinggalkan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Disadur VIVA Otomotif dari Slashgear, Minggu 5 Juli 2026, salah satu mitos yang paling sering terdengar adalah anggapan bahwa semua mobil akan lebih baik jika menggunakan bahan bakar beroktan tinggi.

Faktanya, jenis BBM yang tepat adalah yang sesuai dengan rekomendasi pabrikan, karena setiap mesin dirancang untuk bekerja dengan angka oktan tertentu. Menggunakan BBM beroktan lebih tinggi tidak otomatis membuat tenaga bertambah jika spesifikasi mesin memang tidak membutuhkannya.

Mitos berikutnya adalah mesin mobil harus dipanaskan selama beberapa menit sebelum digunakan. Kebiasaan ini memang pernah dianjurkan pada mobil dengan teknologi lama, tetapi sebagian besar mobil modern yang menggunakan sistem injeksi hanya membutuhkan waktu singkat agar oli bersirkulasi ke seluruh bagian mesin sebelum kendaraan dijalankan secara perlahan.

Anggapan bahwa oli mesin wajib diganti setiap jarak tertentu tanpa melihat kondisi kendaraan juga mulai ditinggalkan. Interval penggantian oli kini bergantung pada jenis pelumas, karakter penggunaan, hingga rekomendasi pabrikan yang tercantum dalam buku manual. Banyak mobil modern bahkan sudah dilengkapi indikator yang membantu pengemudi mengetahui waktu servis yang tepat.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ada pula mitos bahwa memindahkan tuas transmisi ke posisi netral saat mobil melaju menuruni jalan dapat menghemat bahan bakar. Pada kendaraan modern, cara tersebut justru tidak selalu memberikan keuntungan karena sistem manajemen mesin telah dirancang untuk mengatur suplai bahan bakar secara otomatis saat mobil meluncur dengan posisi gigi tetap terhubung.

Penggunaan pendingin udara atau AC juga kerap dianggap sebagai penyebab utama konsumsi BBM menjadi boros. Padahal, pengaruhnya bergantung pada berbagai faktor seperti jenis kendaraan, kecepatan, kondisi lalu lintas, hingga cara mengemudi. Dalam beberapa kondisi, membuka seluruh kaca saat mobil melaju justru dapat meningkatkan hambatan angin sehingga efisiensinya tidak selalu lebih baik dibanding menyalakan AC.

Halaman Selanjutnya

Seiring berkembangnya teknologi kendaraan, informasi mengenai cara perawatan mobil juga terus mengalami perubahan. Karena itu, pemilik kendaraan sebaiknya tidak hanya mengandalkan kebiasaan lama, tetapi juga mengikuti panduan dari pabrikan agar kendaraan tetap bekerja optimal dan biaya perawatan tetap efisien.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |