Jakarta, VIVA – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) bukan lagi sekadar alat bantu untuk mencari informasi atau membuat tugas. Seiring pesatnya perkembangan teknologi, sejumlah perguruan tinggi mulai mengintegrasikan AI ke dalam kurikulum sebagai bekal utama bagi mahasiswa menghadapi dunia kerja.
Perubahan ini didorong oleh semakin luasnya pemanfaatan AI di berbagai sektor, mulai dari industri, kesehatan, keuangan, hingga pendidikan. Akibatnya, lulusan perguruan tinggi kini dituntut tidak hanya menguasai bidang keilmuannya, tetapi juga memahami cara memanfaatkan AI secara bertanggung jawab.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Salah satu pendekatan yang mulai diterapkan adalah menjadikan AI sebagai bagian dari proses pembelajaran sejak mahasiswa memasuki tahun pertama kuliah. Materi yang dipelajari tidak hanya mencakup cara menggunakan AI, tetapi juga pemahaman mengenai etika dan batasan dalam penerapannya.
Memasuki jenjang berikutnya, AI mulai diterapkan sesuai disiplin ilmu masing-masing. Mahasiswa teknik, matematika, bisnis, maupun ilmu sosial didorong memanfaatkan teknologi tersebut untuk mendukung proses belajar dan menyelesaikan berbagai permasalahan sesuai bidangnya.
Pada tahap yang lebih lanjut, AI bahkan mulai dimanfaatkan sebagai mitra dalam kegiatan riset. Kehadirannya membantu mahasiswa mengolah informasi, menganalisis data, hingga mempercepat proses penelitian tanpa menghilangkan peran manusia sebagai pengambil keputusan.
Model pembelajaran tersebut menjadi salah satu pendekatan yang diterapkan oleh Xi'an Jiaotong-Liverpool University (XJTLU), universitas hasil kolaborasi China dan Inggris. Menurut Executive President XJTLU, Profesor Youmin Xi, AI tidak diposisikan sebagai pengganti manusia, melainkan sebagai pendukung dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
"Filosofi kami adalah X plus AI, bukan AI plus X. Sebab, kemampuan menguasai AI belum cukup untuk menyiapkan lulusan perguruan tinggi menghadapi perubahan dunia kerja yang semakin cepat.," ujarnya, dikutip Jumat 26 Juni 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Menurutnya, pendekatan tersebut bertujuan agar mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memahami konteks, risiko, serta dampak etis dari penggunaan AI. Dengan demikian, lulusan diharapkan mampu berpikir kritis dan mengambil keputusan secara bijaksana ketika memanfaatkan teknologi.
Xi menambahkan bahwa kemampuan mengoperasikan AI saja tidak lagi cukup untuk menghadapi tantangan masa depan.
Halaman Selanjutnya
"Lulusan masa depan membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan mengoperasikan teknologi. Kemampuan berpikir kritis, bijaksana, karakter, dan soft skills juga menjadi modal utama agar lulusan mampu beradaptasi di tengah perubahan dunia kerja global yang semakin dipengaruhi AI," katanya.

4 hours ago
1










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7178789/original/095628200_1779973255-1.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8004128/original/059258800_1780843343-word_media_image4.jpg)


