Analis Ingatkan Risiko Penutupan Selat Hormuz Berpotensi Tekan Pasar Saham Lebih Lama

1 week ago 5

Selasa, 3 Maret 2026 - 15:28 WIB

Jakarta, VIVA – Tensi geopolitik yang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel kembali menekan pasar saham global, termasuk Indonesia, karena meningkatnya ketidakpastian global. Meski saat ini dampaknya dinilai masih bersifat jangka pendek, namun penutupan Selat Hormuz dapat memicu efek berkelanjutan di pasar. 

Pengamat Pasar Modal, Elandry Pratama, menilai ancaman penutupan Selat Hormuz sebagai jalur strategis distribusi akan mengganggu pengiriman minyak dan energi global. Alhasil, harga minyak dunia semakin mahal.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Elandrya mengingatkan, apabila bertahan di level tinggi dalam waktu lebih lama, pasar tidak hanya menghadapi tekanan sentimen tetapi juga risiko kebijakan moneter yang lebih ketat. Kondisi ini memperpanjang tekanan terhadap pasar saham.

"Kenaikan harga minyak yang bertahan lebih lama dapat memicu tekanan inflasi dan mempengaruhi kebijakan moneter, yang pada akhirnya berdampak pada arus modal dan stabilitas pasar," jelas Elandry dikutip dari Antara pada Selasa, 3 Maret 2026.

Foto ilustrasi minyak dunia

Ia menambahkan, konflik yang memanas langsung memengaruhi sentimen dan selera risiko (risk appetite) investor global. Dalam situasi penuh ketidakpastian, pelaku pasar cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko.

"Ketika tensi meningkat, pelaku pasar cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko seperti saham emerging market, sehingga IHSG terkoreksi dan volatilitas meningkat," ujar Elandry saat dihubungi Antara di Jakarta, Senin.

Di tengah gejolak ini, Elandry melihat adanya pergeseran aliran dana ke aset safe haven seperti emas, dolar AS, dan obligasi pemerintah. Sementara di pasar saham, rotasi sektor mulai terlihat. Mula-mula investor cenderung masuk ke saham berbasis emas serta energi (oil & gas) yang diuntungkan dari kenaikan harga komoditas, setelah volatilitas terus berlanjut, rotasi dapat bergerak ke sektor defensif.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Rotasi bisa mengarah ke sektor defensif seperti consumer staples, kesehatan, serta perbankan besar yang memiliki fundamental kuat dan likuiditas tinggi," ujar Elandry.

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga menanti keputusan suku bunga acuan Federal Reserve AS (The Fed) yang akan diumumkan pada 17–18 Maret 2026. Dari sisi domestik, investor akan mencermati arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI).

Halaman Selanjutnya

"Kebijakan suku bunga, pergerakan harga minyak, kurs Rupiah, dan arus dana asing akan menjadi penentu utama arah IHSG ke depan," kata Elandry.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |