Liputan6.com, Jakarta - Virus Nipah kembali menjadi perhatian dunia setelah munculnya kasus baru di India. Meski jumlah kasus relatif terbatas, penyakit ini tetap dianggap sebagai salah satu ancaman kesehatan global paling berbahaya. Alasannya jelas, tingkat kematian yang tinggi, penularan lintas spesies, dan belum adanya vaksin maupun obat khusus untuk menyelamatkan pasien.
Virus Nipah pertama kali teridentifikasi pada 1998 dan hingga kini masih masuk dalam daftar penyakit prioritas Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Penyakit ini dinilai berpotensi memicu wabah besar jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat, seperti dikutip BBC pada Rabu, 28 Januari 2026.
Tingkat Kematian Virus Nipah Sangat Tinggi
Bahaya utama virus Nipah terletak pada angka fatalitasnya yang mencapai 40 hingga 75 persen. Artinya, dari setiap 10 orang yang terinfeksi, hampir separuhnya berisiko meninggal dunia.
Angka ini jauh lebih tinggi dibanding banyak penyakit infeksi lainnya. Tingginya angka kematian ini diperparah oleh belum tersedianya terapi khusus. Penanganan pasien saat ini masih bersifat supportif, seperti menjaga fungsi pernapasan, cairan tubuh, dan mengatasi komplikasi yang muncul.
Tidak Ada Vaksin dan Obat Khusus untuk Virus Nipah
Hingga kini, belum ada vaksin maupun obat antivirus yang disetujui untuk mengobati infeksi virus Nipah. Kondisi ini membuat upaya penyelamatan pasien sangat bergantung pada kecepatan diagnosis dan kualitas perawatan medis.
Ketiadaan vaksin juga berarti pencegahan menjadi kunci utama, mulai dari pembatasan kontak dengan hewan pembawa virus hingga pengawasan ketat pada potensi penularan antarmanusia.
Virus Nipah: Penularan dari Hewan ke Manusia
Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis, yang dapat menular dari hewan ke manusia. Kelelawar buah dikenal sebagai reservoir alami virus ini, sementara babi sering berperan sebagai inang perantara.
Penularan juga bisa terjadi melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi, serta kontak langsung dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi. Inilah yang membuat virus Nipah sulit dikendalikan, terutama di wilayah dengan interaksi erat antara manusia dan hewan.
Gejala Virus Nipah Sering Dianggap Ringan
Bahaya lainnya adalah gejala awal virus Nipah yang kerap tidak spesifik. Penderita biasanya mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan sakit tenggorokan. Pada tahap ini, penyakit sering disalahartikan sebagai infeksi ringan.
Namun, pada sebagian pasien, kondisi dapat memburuk dengan cepat. Gangguan kesadaran, pneumonia, hingga ensefalitis atau peradangan otak bisa terjadi dan berujung fatal.
Virus Nipah memiliki masa inkubasi sekitar 4 hingga 14 hari, bahkan dalam beberapa laporan bisa lebih lama. Selama periode ini, seseorang dapat terlihat sehat tetapi berpotensi menularkan virus ke orang lain.
Faktor inilah yang membuat otoritas kesehatan di berbagai negara meningkatkan skrining dan pemantauan ketat, terutama pada pelaku perjalanan dari wilayah terdampak.
Ancaman Nyata Kesehatan Global
Meski kasusnya jarang, virus Nipah tetap menjadi ancaman serius. Kombinasi antara fatalitas tinggi, ketiadaan vaksin, serta potensi penularan yang luas membuat penyakit ini tidak bisa dianggap remeh.
Kewaspadaan masyarakat, deteksi dini, dan respons kesehatan publik yang cepat menjadi kunci untuk mencegah dampak yang lebih luas dari virus mematikan ini.

4 hours ago
1
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1773618/original/083337700_1510914819-20150922_malaysiaflag_afp.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5470656/original/014155400_1768213817-jajanan_sehat__3_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5348438/original/095087100_1757829142-fitness-asian-girl-doing-workout-home-living-room-lifting-dumbbells-wearing-activewear-spo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5485887/original/050037700_1769567850-unnamed__5_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5161817/original/063955100_1741847724-1741841515641_penyebab-demam-tinggi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4961457/original/096374900_1728224007-fotor-ai-20241006205116.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3524251/original/038263600_1627479870-wes-hicks-Xg_LGdZVPe0-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5485858/original/007017800_1769566397-Gemini_Generated_Image_ga2j8dga2j8dga2j.png)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5485154/original/028256900_1769496101-siti_nadia.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5485457/original/070806700_1769507349-bgs_jkn.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3448808/original/032087500_1620206402-stethoscope-decorative-kidneys-gray_185193-30956.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5485548/original/063674100_1769511840-closeup-shot-sleeping-bat-wrapped-its-wings.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3563902/original/063957200_1631001469-todd-cravens-IY1sRDxNWN4-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5485492/original/007610400_1769508737-nipah_bgs.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4717453/original/031148700_1705391334-fotor-ai-20240116142033.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5277037/original/085022200_1751974982-Demam.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5033445/original/029989800_1733209830-A_realistic_illustration_of_a_young_person_holding.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5485209/original/002570800_1769498234-nipah_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5463911/original/050937000_1767673835-stockking.jpg)














