AS Panik, Rusia Akhirnya Dilirik

1 day ago 8

Kamis, 12 Maret 2026 - 21:26 WIB

Jakarta, VIVA - Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent mengaku sedang mempertimbangkan untuk melonggarkan sanksi ekonomi terhadap beberapa volume minyak mentah Rusia untuk membantu menstabilkan harga dan suplai energi global menyusul eskalasi di Timur Tengah.

Seperti diketahui, AS dan Israel melancarkan serangan udara gabungan terhadap Iran sejak akhir Februari 2026, sehingga memicu serangan balasan yang menargetkan pangkalan militer milik Washington DC di seluruh kawasan Timur Tengah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Eskalasi ini telah mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur vital perkapalan energi yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam global. Harga minyak global melonjak seiring konflik mendekati satu minggu dan selat tersebut tetap tertutup bagi lalu lintas kapal.

Minyak mentah Brent naik sekitar 30 persen menjadi di atas US$94 (Rp1,58 juta) per barel, kenaikan mingguan terbesar sejak April 2020. Patokan minyak AS WTI naik lebih dari 38 persen, sempat melampaui US$92 (Rp1,55 juta) per barel dan menandai lonjakan mingguan terbesar sejak setidaknya oil boom pada 1985.

Menkeu Bessent menyatakan bahwa Washington DC juga sudah memberi India "izin" untuk membeli minyak mentah Rusia "untuk mengurangi kekurangan minyak sementara di seluruh dunia." Ia juga menyebut kalau AS "mungkin akan mencabut sanksi terhadap minyak Rusia lainnya" untuk lebih meningkatkan pasokan.

"Kami akan terus mengumumkan langkah-langkah untuk memberikan bantuan kepada pasar selama konflik ini. Kami berjanji bahwa kapal-kapal Angkatan Laut AS akan mulai mengawal kapal-kapal sipil melalui Selat Hormuz dalam waktu satu atau dua minggu," klaim dia, seperti dikutip dari situs Russia Today, Kamis, 12 Maret 2026.

India dan China menjadi pembeli utama minyak mentah Rusia setelah AS dan Uni Eropa menjatuhkan sanksi kepada Moskow atas eskalasi konflik Ukraina pada Februari 2022.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Washington DC telah lama mendesak New Delhi untuk menghentikan impor tersebut, dengan Duta Besar AS untuk India Sergio Gor mengatakan bulan lalu bahwa Gedung Putih menggunakan pembicaraan perdagangan untuk mendorong India membeli minyak Venezuela sebagai gantinya.

Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa New Delhi "setuju untuk menghentikan" pengiriman dari Moskow. Namun, India tidak pernah mengonfirmasi komitmen tersebut.

Halaman Selanjutnya

Menteri Luar Negeri India S. Jaishankar mengatakan New Delhi mengejar “otonomi strategis” dan membuat keputusan energi yang dianggapnya demi “kepentingan terbaiknya” berdasarkan biaya dan risiko.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |