B50 Resmi Jalan 1 Juli, Ekonom Sebut RI Bisa Setop Impor Solar dan Hemat Devisa Rp157 Triliun

2 days ago 7

Jumat, 19 Juni 2026 - 09:45 WIB

Jakarta, VIVA – Pemerintah akan mulai menerapkan mandatori biodiesel B50 secara nasional pada 1 Juli 2026. Kebijakan ini diyakini menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak.

Penerapan B50 merupakan kelanjutan dari program biodiesel yang telah berjalan selama satu dekade terakhir. Setelah melalui tahapan B20, B30, B35, dan B40, pemerintah kini meningkatkan porsi campuran biodiesel menjadi 50 persen sebagai bagian dari upaya memperbesar penggunaan energi berbasis sumber daya domestik.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ekonom Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Hendry Cahyono, menilai implementasi B50 berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian nasional, terutama dalam menekan impor energi yang selama ini membebani neraca perdagangan.

Menurut Hendry, berkurangnya impor solar dapat membantu memperkuat posisi eksternal Indonesia dan memberikan dampak positif terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.

"Kalau yang disampaikan demikian, memang itu akan menurunkan angka impor. Salah satu dampaknya nanti juga bisa terhadap apresiasi nilai tukar rupiah," ujar Hendry saat dihubungi, Jumat (19/6/2026).

Potensi Hemat Devisa Capai Rp157 Triliun

Pemerintah memperkirakan implementasi B50 mampu menghemat devisa negara hingga Rp157,28 triliun per tahun. Angka tersebut berasal dari penurunan kebutuhan impor bahan bakar yang selama ini masih cukup besar.

Hendry menilai target penghematan tersebut dapat dicapai selama seluruh aspek pendukung telah dipersiapkan dengan baik, mulai dari ketersediaan bahan baku, kapasitas produksi biodiesel, hingga skema pembiayaan yang menopang program tersebut.

Ia menegaskan bahwa kebijakan B50 tidak hanya berbicara mengenai pengurangan impor, tetapi juga merupakan bagian dari strategi jangka panjang dalam membangun kemandirian energi nasional.

Di tengah tingginya volatilitas harga minyak dunia dan berbagai ketidakpastian geopolitik global, penggunaan energi berbasis sumber daya dalam negeri dinilai menjadi langkah yang semakin relevan.

"Kalau nanti B50 digunakan dan sektor industri juga menggunakan B50, itu bisa menjadi salah satu pilot project bagi ketahanan energi," katanya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dorong Investasi dan Industri Sawit

Selain memberikan manfaat pada sektor energi, implementasi B50 juga diperkirakan membawa efek berganda terhadap perekonomian nasional.

Halaman Selanjutnya

Meningkatnya kebutuhan biodiesel berpotensi mendorong investasi baru pada sektor hilirisasi sawit, meningkatkan utilisasi industri pengolahan, hingga memperkuat rantai pasok industri berbasis minyak kelapa sawit.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |