Jakarta, VIVA – Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL) bersama BBC Media Action menyelenggarakan PIMHIE International Learning Showcase bertajuk “Building Healthy Information Environments: Collaborative Responses to Disinformation in the Digital Age” di Jakarta, Kamis (18/6). Kegiatan ini menjadi forum berbagi pembelajaran dari pelaksanaan Program Public Interest Media and Healthy Information Environments (PIMHIE), yang didukung oleh Pemerintah Inggris melalui Foreign, Commonwealth & Development Office (FCDO).
Forum ini menghadirkan peserta dari Indonesia dan kawasan ASEAN yang mewakili pemerintah, organisasi media dan jurnalis, akademisi, masyarakat sipil, lembaga pembangunan internasional, serta perwakilan kedutaan besar dan donor internasional untuk bertukar pengalaman dan perspektif dalam memperkuat ketahanan informasi di era digital.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Acara dibuka oleh Ketua Umum MASTEL Sarwoto Atmosutarno, dilanjutkan sambutan dari Matthew Perrement, Deputy Head of the Foreign, Commonwealth & Development Office (FCDO) British Embassy Jakarta, serta Rachael McGuin, Country Director BBC Media Action Indonesia and Pacific. Keynote address disampaikan oleh Molly Prabawaty, Staf Ahli Menteri Bidang Komunikasi dan Media Massa Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, mewakili Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria.
Dalam sambutannya, Sarwoto Atmosutarno menegaskan bahwa disinformasi merupakan tantangan yang tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Menurutnya, penguatan ketahanan informasi membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, media, platform digital, akademisi, masyarakat sipil, dan masyarakat luas. Ia juga menekankan bahwa Policy Paper yang dihasilkan melalui Program PIMHIE merupakan hasil proses kolaboratif yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan dan diharapkan dapat menjadi kontribusi bagi upaya memperkuat ketahanan informasi di Indonesia.
Matthew Perrement menegaskan bahwa disinformasi telah berkembang menjadi tantangan global yang semakin kompleks. Menurutnya, upaya penanganan disinformasi tidak cukup hanya berfokus pada narasi atau konten yang menyesatkan, tetapi juga perlu memahami jaringan, aktor, dan mekanisme yang secara terorganisasi menyebarkan informasi manipulatif.
Ia menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi, penguatan instrumen hukum, pendidikan publik, serta dukungan terhadap jurnalisme yang berkualitas. Pada saat yang sama, langkah-langkah tersebut perlu dilakukan secara proporsional agar tetap menjaga prinsip keterbukaan, kebebasan berekspresi, dan nilai-nilai demokrasi.

1 hour ago
1














:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5575090/original/094355400_1778037587-cropped-6b94bc59-8fb4-4b76-874b-71a6a7262057.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3225899/original/035012600_1599019411-photo-1522844990619-4951c40f7eda__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6585873/original/001610400_1779426788-portrait-asian-woman-exercising-work-out-gym.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7030163/original/022205500_1779804922-c02ebcc3-6f2d-4b77-b8b7-53a65d092b74.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6682149/original/080813600_1779504411-20260522_095154.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7085644/original/043419200_1779866458-0f176e17-f5af-45dd-becb-4bf70012ed3b.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3426394/original/026891500_1618208519-colorful-soda-drinks-macro-shot_53876-18225.jpg)