Indonesia Jangan Hanya Jadi Pengguna AI

2 hours ago 1

Minggu, 21 Juni 2026 - 21:20 WIB

Jakarta, VIVA – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) berlangsung sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir. Teknologi ini kini digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari analisis data, layanan pelanggan, hingga membantu pengambilan keputusan di dunia bisnis.

Di tengah pesatnya adopsi AI, pemerintah menilai Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar atau pengguna teknologi yang dikembangkan negara lain. Kemampuan menciptakan inovasi berbasis AI dinilai menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing nasional di masa depan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pandangan tersebut mengemuka dalam Festival AI Nusantara yang mempertemukan ratusan talenta digital dari berbagai daerah. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk mempercepat pemanfaatan AI di sektor pendidikan, UMKM, dan industri kreatif.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan bahwa manusia tetap memegang peran utama dalam perkembangan teknologi. Menurutnya, AI seharusnya menjadi alat yang membantu manusia untuk menghasilkan karya dan inovasi yang lebih baik.

“Manusia tetap menjadi penggerak utama. Sementara AI adalah alat yang mendukung kemampuan manusia untuk berkreasi, berinovasi, dan berkarya,” ujarnya, dikutip Minggu 21 Juni 2026.

Ia menilai kebutuhan keterampilan AI akan terus meningkat seiring transformasi digital yang terjadi di berbagai sektor. Karena itu, pengembangan talenta digital menjadi salah satu aspek penting yang perlu dipersiapkan sejak sekarang.

Menurut Teuku Riefky, Indonesia memiliki peluang besar untuk melahirkan inovator teknologi yang mampu bersaing di tingkat global. Namun, hal tersebut hanya dapat terwujud jika masyarakat memiliki akses terhadap pendidikan dan pengembangan keterampilan yang memadai.

"Kami ingin memastikan bahwa masyarakat Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tapi juga dapat melangkah maju sebagai pencipta inovasi berbasis AI dalam mendukung kemajuan industri kreatif dan UMKM," tuturnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di sisi lain, tantangan pemerataan akses teknologi masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Kesenjangan akses dinilai berpotensi menghambat munculnya talenta-talenta baru dari daerah yang sebenarnya memiliki kemampuan besar.

Direktur PT Fokus Target Solusi, Fima Rosyidah, mengatakan bahwa teknologi AI seharusnya dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Hal tersebut mencakup pelajar, mahasiswa, pelaku UMKM, hingga masyarakat yang berada di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T.

Halaman Selanjutnya

Menurutnya, pendekatan yang tepat adalah menjadikan manusia sebagai pengendali utama, sementara AI berfungsi sebagai pendamping. Dengan cara tersebut, teknologi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas tanpa menghilangkan peran manusia dalam proses kreatif.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |