B50 Segera Mengaspal di Indonesia, Apa Keuntungan dan Perbedaan dengan Solar Konvensional?

3 days ago 7

Kamis, 18 Juni 2026 - 17:35 WIB

Jakarta, VIVA – Pemerintah akan mulai menerapkan bahan bakar B50 secara nasional pada 1 Juli 2026. Kebijakan ini menjadi salah satu langkah untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak sekaligus meningkatkan pemanfaatan sumber daya dalam negeri, khususnya minyak kelapa sawit.

B50 merupakan bahan bakar yang terdiri atas campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak nabati dan 50 persen bahan bakar minyak jenis solar. Kehadirannya merupakan kelanjutan dari program biodiesel yang sebelumnya telah berjalan melalui skema B20, B30, hingga B40. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Implementasi B50 juga datang di tengah upaya pemerintah memperkuat ketahanan energi nasional. Selain mengurangi impor solar, penggunaan biodiesel dinilai dapat menciptakan nilai tambah bagi industri sawit domestik, membuka lapangan kerja, sekaligus mendukung target pengurangan emisi gas rumah kaca.

B50 Berpotensi Hemat Devisa hingga Rp157 Triliun

Sebagaimana diberitakan Viva sebelumnya, Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, mengatakan bahwa implementasi B50 diperkirakan mampu memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi Indonesia. "Dan di 2026 ini, dengan implementasi B50, diharapkan kita bisa menghemat devisa Rp157,28 triliun," jelas Dwi.

Menurutnya, peningkatan penggunaan biodiesel akan menurunkan kebutuhan impor solar sehingga devisa negara dapat dihemat dalam jumlah besar. Nilai penghematan tersebut meningkat dibandingkan saat pemerintah masih menerapkan mandatori B40 pada tahun sebelumnya. 

Pada 2025, program biodiesel disebut mampu menghemat devisa sekitar Rp133,3 triliun. Dengan demikian, potensi penghematan dari implementasi B50 meningkat sekitar 17,9 persen.

Tak hanya itu, pemerintah memperkirakan program B50 mampu menciptakan nilai tambah minyak kelapa sawit mentah (CPO) sebesar Rp24,68 triliun, menyerap sekitar 2,21 juta tenaga kerja, serta menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 46,72 juta ton. 

Dwi menambahkan bahwa kebijakan tersebut juga menjadi respons terhadap ketidakpastian harga energi global yang dipengaruhi berbagai faktor geopolitik. "Jadi inilah faktor utama sebenarnya kenapa akhirnya 1 Juli ini nanti (B50) diimplementasikan," jelasnya. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Apa Bedanya B50 dengan Solar Biasa?

Meski sama-sama digunakan untuk kendaraan dan mesin diesel, B50 memiliki sejumlah perbedaan dibandingkan solar konvensional yang selama ini digunakan masyarakat. Berikut informasi selengkapnya, sebagaimana dihimpun Viva pada Kamis, 18 Juni 2026.

Halaman Selanjutnya

1. Sumber Bahan Baku

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |