BRIN: Tingkat Kepercayaan Kepolisian Tergantung Budaya Masyarakat

17 hours ago 1

Sabtu, 14 Maret 2026 - 11:30 WIB

Jakarta, VIVA – Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Syafuan Rozi menilai salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat kepercayaan terhadap kepolisian adalah budaya masyarakat. Menurut Syafuan, jika budaya hukum masyarakat tinggi, maka akan mempengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat ke pihak kepolisian.

Hal ini disampaikan Syafuan dalam acara Speakup Kamtibmas antara Front Pemuda Indonesia Raya (FPIR) bersama BRIN bertajuk 'Eksistensi Polri dalam Menjaga Kamtibmas di bulan Ramadan'.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut Syafuan, data tren tingkat kepercayaan publik terhadap polisi di dunia masih dipegang oleh negara Belanda dengan urutan pertama sebagai negara yang minim kriminalitas. Hal tersebut tidak terlepas dari budaya masyarakat di Belanda.

"Belanda menerapkan sistem restorative justice yang itu menjadi mitigasi awal dalam kehidupan sosial masyarakat lokal disana. Sebelum ke arah penegakan hukum, masyarakat terlebih dulu menyelesaikan dalam internal kekeluargaan atau pendekat hukum adat (urban law)," ujar Syafuan dikutip Sabtu, 14 Maret 2026.

Syaufan juga mengungkapkan, bahwa kepolisian Indonesia bersyukur dengan adanya Hermawan Sulistyo, Ilmuwan Politik, yang membantu mendesain reformasi struktural dan kultural di tubuh institusi Kepolisan Negara Republik Indonesia.

"Jadi (Prof Hermawan) itu dosen di universitas Bhayangkara. Karena itu, dia melatih, mulai dari perwira AKBP untuk bisa melatih kepolisian kita punya kemampuan seperti polisi di Jepang, di Singapura dan Belanda," kata dia.

Pada kesempatan itu, Koordinator FPIR Fauzan Ohorella membeberkan data kinerja polisi yang tidak banyak masyarakat tahu selama bulan Ramadan. Fauzan menjelaskan, bahwa ketahanan pangan dan stabilitas harga bahan pokok, tidak terlepas dari peran aktif Polri.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Bapak Kapolri, instruksikan jajaran untuk membentuk Satgas, yang dimana (satgas) ini bertujuan untuk memantau dan menekan, distributor dan tengkulak. Yang mana itu berdampak lansung pada masyarakat, terkhusus ibu-ibu kita dibulan ramadan," ungkap dia.

Fauzan juga menyatakan, bahwa banyak pengamat yang terus perhatikan kinerja polri selama Ramadan. Dia merujuk pada tulisan dari pengamat politik senior Boni Hargens yang menilai  Safari Ramadan Polri sebagai wujud dari fasilitator sosial.

Halaman Selanjutnya

"Polri sebagai fasilitator sosial, yang berperan aktif dan ambil bagian penting di bulan ramadan, yaitu menjaga ketahanan pangan dan stabilitas harga bahan pokok," tandas dia.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |