Yogyakarta, VIVA – Kasus dugaan penganiayaan dan penelantaran anak di daycare Little Aresha, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta, mengungkap fakta baru. Orang tua murid diketahui hanya dapat mengakses CCTV di area luar, sementara aktivitas di dalam ruangan tidak dapat dipantau.
Sistem pengawasan di daycare tersebut memang terbatas. Orang tua hanya diizinkan melihat rekaman di bagian depan atau teras, yang menjadi titik antar-jemput anak. Sementara itu, area dalam, tempat anak-anak beraktivitas sehari-hari, tidak bisa diakses.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Selain itu, terungkap pula bahwa daycare Little Aresha telah beroperasi lebih dari lima tahun tanpa mengantongi izin resmi dari dinas terkait di Kota Yogyakarta.
Situasi ini dinilai menjadi salah satu celah yang membuat dugaan kekerasan berlangsung tanpa terpantau. Kasus ini sendiri mencuat setelah aparat Polresta Yogyakarta melakukan penggerebekan pada Jumat, 24 April 2026. Dalam operasi tersebut, polisi mengamankan sekitar 30 orang yang terdiri dari pengasuh, petugas keamanan, hingga pengelola yayasan.
Kasatreskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Riski Adrian, menjelaskan bahwa puluhan orang tersebut masih diperiksa secara intensif untuk mendalami peran masing-masing.
"Kemarin kami sudah mengamankan sekitar 30 orang secara bertahap. Mulai dari mereka yang bertugas sebagai pengasuh sampai pejabat di yayasannya," ujar Riski Adrian dikutip tvOne.
Dari hasil pemeriksaan awal, aparat menemukan kondisi yang sangat memprihatinkan. Bahkan, petugas disebut menyaksikan langsung perlakuan tidak layak terhadap anak-anak yang dititipkan di sana.
"Anggota kami melihat sendiri kondisi anak-anak yang diperlakukan secara tidak manusiawi. Ada temuan di mana kaki dan tangan anak dalam kondisi terikat," lanjutnya.
Data sementara menunjukkan, terdapat 103 anak yang pernah dititipkan di daycare tersebut dalam kurun waktu tertentu. Dari jumlah itu, sekitar 53 anak diduga menjadi korban kekerasan fisik maupun penelantaran.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Para korban mayoritas masih berusia di bawah dua tahun. Mereka mengalami berbagai luka, mulai dari lebam, luka cakar, hingga pendarahan di sejumlah bagian tubuh. Polisi menegaskan jumlah korban masih sangat mungkin bertambah, seiring proses penyelidikan yang terus berjalan.
"Jumlah korban sangat mungkin bertambah seiring pengembangan penyidikan. Pasti akan kami kejar terus," tegas Riski Adrian.
Halaman Selanjutnya
Sejumlah orang tua juga telah mencurigai adanya kejanggalan pada kondisi anak mereka. Beberapa anak terlihat ketakutan, bahkan menangis setiap kali hendak diantar ke daycare.

3 hours ago
1



























