Bukunya Dibedah Tuntas, Sosok Tiga Kiai Besar di Balik Kepemimpinan Cak Imin Disorot

2 hours ago 1

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 08:59 WIB

Jakarta, VIVA –Suluh Nahdliyin menggelar diskusi buku Gus Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, Meneladani Kepemimpinan 3 Kiai: KH Hasyim Asy'ari, KH Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri karya Dr. Wasid, S.Fil.I dkk. 

Diskusi ini berlangsung di Al Maliki 2 Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, pada Jumat, 28 Agustus 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas KH Azam Khairuman Najib (Gus Heru), Pengasuh Pondok Pesantren Madrasatul Qur'an Tebuireng KH Mustain Syafi'i (Kiai Tain), serta pengamat politik Hendri Satrio.

Gus Heru mengatakan, buku tersebut mencoba membaca sosok Gus Muhaimin Iskandar dari berbagai perspektif, terutama dengan melihat keteladanan tiga tokoh besar yang menjadi panutan kepemimpinannya.

“Lewat buku ini, kita mencoba membaca Cak Imin yang orangnya juga santai dari berbagai perspektif, dari berbagai tokoh yang ada di belakangnya yang menjadi panutan beliau,” ujar Gus Heru.

Menurut dia, latar belakang genealogis Gus Muhaimin juga tidak bisa dilepaskan dari jejaring pesantren besar di Jombang, khususnya Tambakberas, Tebuireng, dan Denanyar. Karena itu, Gus Heru menyebutnya dapat dipandang sebagai representasi dari tiga lingkungan pesantren tersebut. 

“Cak Imin ini bisa dikatakan perwakilan Tebuireng, bisa dikatakan perwakilan Tambakberas, bisa dikatakan perwakilan dari Denanyar. Jadi wong sakti, kesaktian—terlalu sakti,” ujarnya disambut suasana cair dalam forum.

Gus Heru menilai buku tersebut memiliki pendekatan yang relatif berbeda karena mencoba mengupas ketiga tokoh pendiri NU dari perspektif politik kepemimpinan.“Baru buku ini yang mengupas dari sisi politik para masyayikh, para muassis. Kalau dari sisi pendidikan sudah berkali-kali, banyak sekali,” katanya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia menegaskan, buku tersebut tetap terbuka untuk dikritisi karena tidak dimaksudkan sebagai karya yang sempurna. “Jenengan semua boleh setuju dengan buku ini dan boleh juga tidak setuju. Karena buku ini pasti ada kekurangan, belum tentu sempurna, dan tidak akan sempurna,” tuturnya.

Menurut Gus Heru, tantangan utama buku tersebut adalah mencoba membaca kepemimpinan Gus Muhaimin melalui tiga figur yang memiliki jasa besar dan pengaruh luas dalam sejarah NU.

Halaman Selanjutnya

“Tiga tokoh yang sudah jauh jaraknya, yang terlalu besar jasanya, yang terlalu luas digambarkan keilmuannya, tapi dicoba diduplikasi oleh Cak Imin, meskipun setetes dua tetes,” katanya.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |