Bulan Puasa Ramadan, Momen Tepat Kurangi Gula Garam Lemak untuk Cegah Obesitas

8 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Bulan puasa Ramadan yang sedang berlangsung saat ini merupakan momen tepat untuk mengurangi gula, garam dan lemak. Tiga asupan yang bila dikonsumsi berlebihan bisa menyebabkan berat badan berlebih hingga obesitas.

"Bulan puasa Ramadan bukan hanya nahan dari makan dan minum tapi juga mengurangi gula garam dan lemak," kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, dokter Siti Nadia Tarmizi pada peringatan Hari Obesitas Sedunia 2026 bersama Nutrifood.

Nadia mengungkapkan saat bulan Ramadan waktu makan jadi terbatas yakni dari maghrib hingga sebelum imsak. Hal itu membantu seseorang bisa mengontrol asupan makan. Berbeda halnya dengan di bulan-bulan lain mungkin akan sulit mengurangi gula garam dan lemak karena waktu makan tidak terbatas.

"Namanya kan latihan, mumpung lagi puasa pakai kesempatan ini. Jadi, bukan hanya melatih diri mengurangi makan tapi juga mengurangi konsumsi gula garam dan lemak," tutur Nadia.

Ia mencontohkan asupan gula pada bulan puasa bisa menjadi satu sendok teh gula pasir saja. Selama sebulan melakukan hal tersebut nanti pada saat sudah selesai bulan puasa tubuh akan terbiasa.

Jika memang asupan gula masih tinggi, Nadia pun menyarankan untuk mengurangi secara bertahap. Misalnya saat beli minuman kopi kekinian bisa dikurangi kadar gula secara bertahap.

"Kalau ada pilihan, sebulan pertama bilang gula 80 persen, bulan depannya 60 persen, lalu bulan selanjutnya 40 persen," saran Nadia.

Mulai Baca Label Gizi di Produk Pangan

Salah satu cara untuk membatasi gula garam dan lemak dengan membacal label gizi di produk pangan olahan. Sehingga bisa diketahui dengan mengonsumsi makanan tersebut sudah berapa banyak gula, garam, dan lemak yang masuk.

"Di tengah gaya hidup modern, konsumsi pangan olahan tidak dapat dihindari. Namun, masyarakat perlu mampu mengenali informasi nilai gizi dan komposisi pada kemasan, sehingga pangan olahan yang dikonsumsi justru dapat membantu mengurangi risiko obesitas," kata Nadia.

Senada dengan Nadia, Head of Strategic Marketing Nutrifood, Susana mengungkapkan bahwa setiap produk pangan olahan diwajibkan untuk menuliskan label nilai gizi di setiap produk.

Kandungan lemak, gula, garam yang tertulis di produk tersebut pun sudah melewati berbagai uji alias tidak self-declared.

"Harus uji lab terakreditasi dan diakui BPOM, baru bisa produk pangan menuliskan label gizi, lemak berapa, gula berapa, garam berapa," tutur Susan.

Baca dan Paham Label Gizi

Diharapkan konsumen membaca dan memahami label gizi, maka bisa membantu mengetahui kalori yang sudah masuk.

"Kalau kita membaca dan paham label gizi itu akan jadi tahu sudah berapa banyak ya kalori yang masuk, gula seberapa banyak, lemak berapa. Jadi, bisa disesuaikan dengan kebutuhan kita," tutur Susan.

Kebutuhan kalori tiap orang tentu berbeda-beda. Misalnya pada orang yang pada hari tersebut hendak melakukan lari jarak jauh maka membutuhkan kalori yang tinggi. Berbeda halnya dengan orang yang duduk di kantor, tentu asupan kalori harus dibatasi karena aktivitas minim gerak.

"Di sini, pangan olahan justru membantu mencegah atau mengatasi obesitas," tutur Susan.

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |