Mengapa Kasus Campak Meningkat? IDAI Sebut Ini Alarm Bahaya bagi Kesehatan Anak

2 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Kasus campak kembali menjadi perhatian. Penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan imunisasi ini masih terus muncul, bahkan berpotensi memicu Kejadian Luar Biasa (KLB) di berbagai daerah. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menilai meningkatnya kasus campak menjadi alarm serius bagi kesehatan anak di Indonesia.

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), DR Dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K) menyoroti bahwa salah satu penyebab utama meningkatnya kasus campak adalah rendahnya cakupan imunisasi di masyarakat.

Menurutnya, campak termasuk dalam kategori Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I). Artinya, penyakit ini sebenarnya bisa diminimalkan jika cakupan vaksinasi tinggi dan merata.

"Problem di masalah campak ini sebetulnya adalah di cakupan imunisasi. Jadi penyakit ini termasuk penyakit PD3I, penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi," kata Piprim dalam seminar media belum lama ini.

Meski program imunisasi telah disediakan secara gratis oleh pemerintah, pelaksanaannya di lapangan masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya adalah keterbatasan akses layanan kesehatan di beberapa daerah.

Selain itu, masalah teknis seperti gangguan rantai dingin atau cold chain juga dapat menyebabkan vaksin rusak sehingga tidak bisa digunakan. Hal ini tentu berdampak pada upaya meningkatkan cakupan imunisasi.

Di sisi lain, fenomena vaccine hesitancy atau keraguan terhadap vaksin juga masih menjadi tantangan. Banyak masyarakat terpengaruh informasi yang tidak benar atau misinformasi tentang imunisasi yang beredar luas, terutama di media sosial.

Padahal, campak merupakan penyakit yang sangat menular. Ketika cakupan imunisasi tidak mencapai tingkat kekebalan kelompok atau herd immunity, maka risiko penyebaran virus menjadi lebih tinggi.

"Karena sangat menular, cakupannya harus tinggi untuk terbentuk herd immunity. Jadi kalau cakupannya turun katakanlah 60 persen saja, itu sudah muncul Kejadian Luar Biasa (KLB)-nya di mana-mana," ujar Piprim.

Lebih jauh, dia mengingatkan bahwa campak bukanlah penyakit ringan seperti yang sering dianggap masyarakat. Infeksi virus ini dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius, mulai dari radang paru-paru, radang otak, hingga kebutaan.

Bahkan, tingkat penularan campak disebut jauh lebih tinggi dibandingkan COVID-19. Karena itu, penguatan layanan kesehatan primer menjadi sangat penting untuk mencegah peningkatan kasus.

Selain meningkatkan cakupan imunisasi, Piprim juga menekankan pentingnya perbaikan gizi anak. Asupan makanan bergizi, terutama protein hewani, dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh anak terhadap berbagai penyakit infeksi.

Tak kalah penting, orang tua juga perlu memahami tanda awal penyakit campak dan segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika muncul gejala yang mencurigakan.

"Jadi sebetulnya ini adalah sebuah wake-up call, alarm yang harusnya menyadarkan kita bahwa campak ini tidak bisa dianggap ringan," ujar Piprim.

Dia juga mengingatkan agar orang tua tidak menunda mencari pertolongan medis ketika anak menunjukkan tanda bahaya, seperti sesak napas atau kondisi kesehatan yang semakin memburuk.

Dengan meningkatkan kesadaran masyarakat, memperkuat program imunisasi, serta memastikan anak mendapatkan nutrisi yang baik, penyebaran campak diharapkan dapat dicegah sehingga kesehatan anak-anak Indonesia tetap terjaga.

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |