VIVA – Kabar duka meninggalnya seorang dokter kembali menjadi sorotan publik, kini publik menyoroti kasus meninggalnya dr Adrian Rantung yang diduga akibat Bullying.
dr Adrian Rantung merupakan peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi, Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) di RSUP Prof. Dr. R.D Kandou, Manado.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dokter muda ini nekat mengakhiri hidupnya yang diduga akibat perundungan atau bullying di lingkungan rumah sakit.
Namun, kasus perundungan atau bullying di dunia pendidikan kedokteran ini memang bukan pertama kali terjadi di Indonesia.
Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin pernah memaparkan laporan pengaduan terkait maraknya kasus perundungan atau bullying di dunia kedokteran di Indonesia.
Kasus Bullying di PPDS
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin
Photo :
- tvOnenews.com/Syifa Aulia
Sejak pada tahun 2023, Kementerian kesehatan telah memberikan sarana untuk melaporkan kasus perundungan terutama di lingkungan rumah sakit.
Kementerian Kesehatan telah menerbitkan Instruksi Menteri Kesehatan tentang Pencegahan Penanganan Perundungan terhadap Peserta Didik, khususnya pada Rumah Sakit Pendidikan di Lingkungan Kementerian Kesehatan, pada 20 Juli 2023.
Dalam instruksi Menkes tersebut memfasilitasi siapapun yang ingin mengadukan kasus perundungan pada pendidikan di rumah sakit melalui website https://perundungan.kemenkes.go.id/ atau Whatsapp di nomor 081299799777.
Dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI, pada Rabu (30/4/2025), Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan Kementerian Kesehatan telah menerima 2.668 pengaduan sejak Juni 2023 dengan 632 laporan merupakan kasus perundungan.
Budi Gunadi mengatakan penyebab banyaknya bullying di lingkungan PPDS lantaran pengajar merupakan senior, bukan gurunya.
“Kenapa bullying terjadi? Karena senior yang sangat menentukan. Jadi yang ngajar sekarang di PPDS sekarang bukan gurunya, karena gurunya sibuk,” ungkap Menkes, Budi Gunadi Sadikin.
Dirinya menjelaskan bahwa bullying secara verbal ditemukan hampir di seluruh pengaduan yang masuk.
Biasanya aksi ini dilakukan di sebuah WhatsApp group dengan bahasa yang digunakan sangat kasar.
Selain perundungan verbal, ditemukan juga tindakan fisik yang merendahkan martabat peserta didik.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sejumlah bentuk hukuman yang ditemukan seperti peserta melakukan push-up, makan cabai, berdiri selama berjam-jam, hingga meminum telur mentah.
Aksi tersebut kemudian direkam dan dibagikan melalui grup WhatsApp tersebut.
Halaman Selanjutnya
Menariknya, Budi juga membeberkan sejumlah rumah sakit yang menjadi lokasi dengan pengaduan perundungan terbanyak.

3 hours ago
1











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8256068/original/018149700_1781146804-20260609_153019.jpg)
