Dari Baja hingga Nikel, Ekspor RI ke Tiongkok Tembus US$5,27 Miliar di Januari 2026

1 week ago 6

Senin, 2 Maret 2026 - 13:24 WIB

Jakarta, VIVA – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan surplus neraca dagang Indonesia sebesar US$0,95 miliar pada Januari 2026, dan menjadi surplus 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2021.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan, tiga negara utama tujuan ekspor non-migas Indonesia adalah Tiongkok, Amerika Serikat (AS), dan India.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Dimana kontribusi ketiga negara ini (terhadap nilai ekspor Indonesia) mencapai 43,77 persen pada Januari 2026," kata Ateng dalam telekonferensi pers, Senin, 2 Maret 2026.

Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono

Photo :

  • [tangkapan layar]

Dia merinci, dari ketiga negara tersebut, Tiongkok tercatat masih menjadi pasar utama dengan nilai mencapai US$5,27 miliar (24,80 persen). Posisi kedua diikuti oleh Amerika Serikat (AS) sebesar US$2,51 miliar (11,82 persen), dan India sebesar US$1,52 miliar (7,15 persen).  

Ateng menjabarkan, ekspor non-migas ke Tiongkok didominasi oleh besi dan baja, nikel dan barang daripadanya, serta bahan bakar mineral. Sementara ekspor ke AS sebagian besar merupakan mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, alas kaki, serta pakaian dan aksesorisnya (rajutan).  

Sementara dari sisi impor, Ateng melaporkan bahwa nilai impor Indonesia pada Januari 2026 tercatat sebesar US$21,20 miliar, atau naik 18,21 persen (yoy) dari Januari 2025.

Penyumbang utamanya masih berasal dari sektor non-migas, dengan nilai impor sebesar US$18,04 miliar atau naik 16,71 persen dibandingkan Januari 2025. "Impor sektor migas meningkat hingga 27,52 persen menjadi sebesar US$3,17 miliar pada Januari 2026," ujar Ateng.

Selanjutnya, dari sisi penggunaan, peningkatan impor pada Januari 2026 terjadi baik pada bahan baku/penolong, barang modal, serta barang konsumsi. Nilai impor bahan baku/penolong sebagai pendorong utama kenaikan impor pada Januari 2026 yang tercatat US$14,88 miliar, naik 14,67 persen dibandingkan Januari 2025.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara impor barang modal tercatat sebesar US$4,49 miliar, atau naik 35,23 persen dibandingkan bulan yang sama tahun lalu.  

"Surplus perdagangan non-migas pada Januari 2026 sebagian besar ditopang oleh lima komoditas utama, yaitu lemak dan minyak hewani/nabati sebesar US$3,10 miliar, bahan bakar mineral sebesar US$2,16 miliar, besi dan baja sebesar US$1,51 miliar, nikel dan barang daripadanya sebesar US$1,03 miliar, serta alas kaki sebesar US$0,49 miliar," ujarnya.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono.

Daging Ayam hingga Cabai Rawit Mahal Dorong Inflasi Februari 2026 Capai 0,68 Persen

Badan Pusat Statistik mencatat bahwa Februari 2026 terjadi inflasi sebesar 0,68 persen atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) jadi 110,50 pada Februari 2026.

img_title

VIVA.co.id

2 Maret 2026

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |