Defisit APBN Bulan Pertama 2026 Capai Rp 54,6 Triliun, Purbaya: Masih Sangat Terkendali

2 weeks ago 6

Senin, 23 Februari 2026 - 12:44 WIB

Jakarta, VIVA – Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencetak defisit sebesar Rp54,6 triliun atau 0,21 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada bulan pertama 2026. Realisasi tersebut diklaim masih terkendali.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, APBN per Januari 2026 mencetak defisit meski pendapatan negara mengalami pertumbuhan positif sebesar 20,5 persen (year-on-year/yoy). Nilai realisasi pendapatan negara tercatat sebesar Rp172,7 triliun atau 5,5 persen dari target APBN sebesar Rp3.153,6 triliun.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Posisi defisit APBN Rp54,6 triliun atau hanya 0,21 persen dari PDB. Angka ini masih sangat terkendali dan berada dalam koridor desain APBN 2026,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Februari 2026 di Jakarta, Senin, 23 Februari 2026.

Purbaya menjabarkan, kinerja itu ditopang oleh penerimaan perpajakan yang terealisasi sebesar Rp138,9 triliun atau 5,2 persen dari target, dengan rincian penerimaan pajak mencapai Rp116,2 triliun (4,9 persen target) dan kepabeanan dan cukai Rp22,6 triliun (6,7 persen target).

“Pajak di bulan Januari itu tumbuh 30,7 persen dibandingkan tahun lalu. Ini artinya ada perbaikan makro sedikit atau banyak dari efisiensi pengumpulan pajak di Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Saya harap ke depannya berlanjut terus,” ujar Purbaya.

Sementara itu, pendapatan negara bukan pajak (PNBP) tercatat sebesar Rp33,9 triliun atau 7,4 persen dari target. Meski pertumbuhannya terkoreksi 20,4 persen, Purbaya menyebut kinerja ini menunjukkan pemulihan di luar komponen non-berulang tahun lalu.

Sebagai catatan, serapan PNBP mengalami penyesuaian sejak komponen penerimaan dari dividen Badan Usaha Milik Negara beralih ke Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dari sisi belanja, realisasi belanja negara tercatat sebesar Rp227,3 triliun atau 5,9 persen dari target, tumbuh 25,7 persen (yoy). Menurut Purbaya, pertumbuhan itu menunjukkan bahwa pemerintah telah mengakselerasi penyaluran belanja sejak awal tahun, khususnya dalam mendukung program prioritas, menjaga daya beli masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026.

Pertumbuhan belanja pemerintah pusat (BPP) mencapai 53,3 persen (yoy) dengan realisasi Rp131,9 triliun atau 4,2 persen dari target. Pertumbuhan yang tinggi terlihat pada komponen belanja kementerian/lembaga sebesar 128,9 persen (yoy). Nilai realisasi belanja K/L tercatat sebesar Rp55,8 triliun atau 3,7 persen dari target.

Halaman Selanjutnya

Sedangkan belanja non-K/L terealisasi sebesar Rp76,1 triliun atau 4,6 persen dari target, tumbuh 23,4 persen (yoy). Adapun realisasi transfer ke daerah (TKD) mengalami pertumbuhan tipis 0,6 persen (yoy) dengan realisasi Rp95,3 triliun atau 13,8 persen dari target.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |