VIVA – Piala Dunia 2026 menghadirkan salah satu kisah paling emosional di awal turnamen. Cape Verde secara mengejutkan menahan imbang raksasa Eropa, Spanyol, dengan skor 0-0 dalam laga debut mereka di ajang Piala Dunia. Namun di balik sejarah besar itu, tersimpan cerita pilu dari sang penjaga gawang, Vozinha.
Kiper Timnas Tanjung Verde, Vozinha
Photo :
- Reuters/Brett Davis
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kiper berusia 40 tahun yang tampil luar biasa dengan deretan penyelamatan penting itu justru tak mampu menahan air mata setelah pertandingan berakhir. Ia bukan hanya menjadi pahlawan negara kecilnya, tetapi juga sosok yang kisah pribadinya menyentuh dunia sepak bola.
Tampil Gemilang, Jadi Pahlawan Tanpa Kebobolan
Dalam pertandingan yang digelar di Atlanta, Spanyol mendominasi permainan sejak awal dengan penguasaan bola tinggi dan peluang bertubi-tubi. Namun semua upaya mereka berhasil dipatahkan oleh ketangguhan Vozinha yang tampil bak tembok hidup di bawah mistar gawang.
Laporan media internasional mencatat ia melakukan sedikitnya tujuh penyelamatan krusial yang membuat Spanyol frustrasi sepanjang laga. Berkat performanya, Cape Verde berhasil mencatat sejarah: meraih poin pertama mereka di Piala Dunia dan menahan salah satu favorit juara.
Air Mata Haru: “Saya Ingin Ibu Saya Ada di Sini”
Meski menjadi pahlawan, momen penuh kebahagiaan itu berubah menjadi emosional ketika Vozinha mengungkapkan alasan di balik air matanya.
Ia menjelaskan bahwa sang ibu tidak dapat hadir di stadion karena kendala biaya dan proses visa untuk masuk ke Amerika Serikat. Bahkan, ia mengaku proses administrasi yang mahal dan rumit membuat keluarganya tidak sempat mengurus perjalanan tepat waktu.
“Saya menangis karena saya tumbuh bersama kakek-nenek saya, dan mereka sudah tiada. Saya juga menangis karena ibu saya tidak bisa hadir,” ungkapnya dengan penuh emosi dalam wawancara pascalaga, dikutip VIVA Rabu, 17 Juni 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dari Perjuangan Panjang Menuju Panggung Dunia
Kisah Vozinha bukanlah cerita instan. Ia baru memulai karier profesional pada usia 25 tahun, jauh lebih lambat dibanding banyak pemain lain di level internasional. Namun kerja kerasnya membawanya menjadi penjaga gawang utama Cape Verde selama lebih dari satu dekade.
Halaman Selanjutnya
Laga melawan Spanyol disebut sebagai puncak perjalanan panjangnya—sebuah momen yang ia impikan sepanjang hidup. Ia menegaskan bahwa pencapaian ini bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk seluruh rakyat Cape Verde yang mendukungnya dari jauh.

4 days ago
3














:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5575090/original/094355400_1778037587-cropped-6b94bc59-8fb4-4b76-874b-71a6a7262057.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3225899/original/035012600_1599019411-photo-1522844990619-4951c40f7eda__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6585873/original/001610400_1779426788-portrait-asian-woman-exercising-work-out-gym.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7030163/original/022205500_1779804922-c02ebcc3-6f2d-4b77-b8b7-53a65d092b74.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7085644/original/043419200_1779866458-0f176e17-f5af-45dd-becb-4bf70012ed3b.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6682149/original/080813600_1779504411-20260522_095154.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3426394/original/026891500_1618208519-colorful-soda-drinks-macro-shot_53876-18225.jpg)