Eks PSM Anco Jansen Kritik Sepak Bola Indonesia: Besar di Medsos, Kualitas Jauh Tertinggal

18 hours ago 4

Kamis, 3 April 2025 - 13:14 WIB

Jakarta, VIVA – Mantan striker PSM Makassar asal Belanda, Anco Jansen, mengungkapkan pernyataan kontroversial terkait sepak bola Indonesia.

Dalam siniar Voetbalpraat yang tayang pada 26 Maret 2025, Jansen menyoroti berbagai aspek sepak bola di Indonesia, termasuk budaya, fasilitas, dan pengaruh media sosial (medsos).

Jansen, yang bermain untuk PSM Makassar pada musim Liga 1 2021/2022, mengungkapkan pengalamannya selama berkarier di Indonesia. Menurutnya, atmosfer sepak bola di Tanah Air sangat dipengaruhi oleh emosi para suporter. 

Skuad Timnas Indonesia di matchday 7 Kualifikasi Piala Dunia 2026

Photo :

  • AP Photo/Mark Baker

"Di sana (Indonesia) Anda bisa melihat bagaimana mereka merasakan sepak bola. Itu luar biasa. Gaya bermain di sana sangat terpengaruh dengan emosi dari tribun," kata mantan pemain NAC Breda itu.

Selain itu, Jansen juga membahas keterbatasan fasilitas sepak bola di Indonesia. Ia mengaku mengalami culture shock saat pertama kali bergabung dengan PSM Makassar, salah satu klub besar di Liga 1.

“Saya bermain di salah satu klub besar di Indonesia, ketika pertama kali datang ke lapangan latihan, saya berpikir ada ruang ganti. Ternyata tidak ada,” kata dia.

“Ini satu di antara klub terbesar di Indonesia. Menunjukkan jauhnya perbedaannya dengan sepak bola di sini," sambungnya.

Lebih lanjut, ia juga menyoroti besarnya peran media sosial di Indonesia, yang menurutnya dapat memberikan tekanan besar kepada para pemain. 

"Negaranya miskin, tapi semua orang punya smartphone. Instagram sangat populer di sana. Jika seorang pemain gagal mencetak gol dari peluang emas, biasanya orang-orang akan memperingatkan, 'Jangan buka ponsel selama dua hari ke depan',” ungkapnya.

Suporter Timnas Indonesia vs Irak di Kualifikasi Piala Dunia

Photo :

  • VIVA.co.id/M Ali Wafa

Menurut Jansen, meskipun sepak bola Indonesia mendapatkan sorotan besar di media sosial dan memiliki banyak penggemar, kualitas serta fasilitasnya masih jauh tertinggal dibandingkan dengan Eropa. 

"Sepak bola di sana oportunistis, dan peluangnya tidak begitu besar. Dari segi fasilitas, pelatih, akademi muda, segala hal masih sangat terbatas,” kata dia.

"Media sosial membuat ini semua seperti ilusi, membuat perhatian terhadap sepak bola di sana (Indonesia) jadi sangat besar, semua orang punya jutaan pengikut, dan seolah semuanya terlihat menarik. Tapi kalau bicara kualitas sepakbolanya? Tidak ada apa-apanya. Saya melihatnya dengan mata kepala sendiri," tegasnya.

Halaman Selanjutnya

“Ini satu di antara klub terbesar di Indonesia. Menunjukkan jauhnya perbedaannya dengan sepak bola di sini," sambungnya.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |