Eksodus Politisi Senior ke PSI Dinilai Bukti Loyalitas ke Partai Kian Kendur

1 week ago 5

Selasa, 3 Maret 2026 - 15:52 WIB

Jakarta, VIVA – Gelombang perpindahan politisi senior ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tak bisa lagi dibaca sebagai manuver biasa menjelang Pemilu 2029. Di balik istilah 'Kandang Gajah' yang terdengar ringan, tersimpan kalkulasi kekuasaan yang serius dan terukur.

Demikian disampaikan pengamat hukum dan politik, Pieter C Zulkifli merespons perpindahan sejumlah politisi senior ke PSI. Dia menyebut fenomena ini memperlihatkan bagaimana loyalitas politik kian lentur ketika berhadapan dengan peluang elektoral dan orbit figur besar.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Mantan Ketua Komisi III DPR RI ini juga menelisik secara tajam apakah eksodus tersebut mencerminkan konsolidasi demokrasi yang sehat atau justru sekadar migrasi pragmatis elite.

"Apakah PSI sedang membangun institusi modern yang terbuka dan antikorupsi, atau hanya menjadi kendaraan baru dalam peta realisme kekuasaan nasional? Eksodus politisi senior ke PSI menandai babak baru realisme kekuasaan, ujian bagi 'Kandang Gajah' antara strategi elektoral dan integritas," kata Pieter Zulkifli dalam keterangannya, Jakarta, Selasa, 3 Maret 2026.

Pieter menilai migrasi politisi senior ke PSI dalam dua tahun terakhir bukan sekadar kabar pindah partai. Dia berpandangan hal ini sebagai gejala politik yang memperlihatkan bagaimana realisme kekuasaan bekerja lebih dominan ketimbang romantisme ideologis.

Dari Ahmad Ali, Bestari Barus, Rusdi Masse Mappasessu, hingga Nina Agustina, satu per satu nama dengan rekam jejak panjang di partai mapan memilih berlabuh ke partai berlambang gajah yang belum pernah lolos ke Senayan.

"Apa yang sesungguhnya terjadi? PSI menyebut strategi ini sebagai pembangunan 'Kandang Gajah' sebuah metafora untuk menjadikan wilayah tertentu sebagai basis kekuatan baru. Namun, di balik istilah yang jenaka itu, tersimpan kalkulasi serius, membangun daya saing elektoral 2029 dengan menggabungkan energi muda dan pengalaman elite lama," katanya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dia mengamini bila faktor Joko Widodo yang menjadi magnet utama politisi itu berlabuh ke PSI. Sejumlah analis membaca migrasi ini sebagai 'Jokowi Effect' jilid dua bukan lagi dalam kapasitas sebagai petahana, melainkan sebagai jangkar elektoral pascakepresidenan.

Menurutnya, dalam sejarah politik Indonesia, figur mantan presiden kerap menjadi episentrum loyalitas baru. Misalnya, Megawati Soekarnoputri identik dengan PDIP, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Demokrat. Kini, publik membaca kemungkinan orbit baru di sekitar PSI.

Halaman Selanjutnya

Namun, kata dia, menyederhanakan eksodus ini hanya sebagai efek figur tentu terlalu dangkal. Bagi Pieter, ada dimensi lain seperti kejenuhan struktural di partai lama, keterbatasan ruang manuver, dan ambisi personal yang mencari kendaraan lebih prospektif.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |