Jakarta, VIVA – ASEAN Business Advisory Council (ASEAN-BAC) dengan menggandeng CSIS Indonesia dan JETRO Jakarta, merilis survei "ASEAN Business Barometer 2026, yang mengambil perspektif dari 395 perusahaan sektor swasta diseluruh kawasan.
Direktur Eksekutif ASEAN-BAC, Rifki Weno menyatakan, survei ini mengungkapkan lanskap ekonomi yang kompleks, meskipun pelaku bisnis sangat optimis terhadap pertumbuhan regional.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dimana mereka secara bersamaan bersiap menghadapi gangguan rantai pasok yang parah akibat proteksionisme global, dan masih berjuang untuk memanfaatkan perjanjian perdagangan bebas yang ada secara maksimal.
"Survei tahun ini mengirimkan pesan yang sangat jelas: sektor bisnis di ASEAN sangat ambisius dan siap untuk berekspansi, namun mereka menghadapi tantangan nyata dari proteksionisme global dan kerumitan transisi hijau," kata Rifki dalam keterangannya, Kamis, 5 Maret 2026.
Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie, ABAC Meeting I-2026
Dia menambahkan, survei ini juga dirancang untuk memberikan rekomendasi praktis dan berwawasan ke depan kepada para menteri ekonomi dan pemimpin ASEAN. Isinya juga menyoroti kebutuhan mendesak akan kebijakan regional yang selaras, saat perusahaan-perusahaan menavigasi ekonomi global yang sedang dalam masa transisi.
Rifki menjelaskan, tingkat pemanfaatan perjanjian perdagangan (FTA) masih di bawah potensi, seiring kurangnya kesiapan UMKM kita menyoroti urgensi bagi para pemimpin ASEAN untuk menyederhanakan regulasi.
"Serta memfasilitasi akses, dan memberikan dukungan yang lebih terarah agar kawasan ini tetap tangguh," ujarnya.
Temuan utama dari Barometer 2026 meliputi:
1). Rencana ekspansi yang agresif : Sekitar 70 persen perusahaan yang menjadi responden menyatakan bahwa mereka akan "memperluas" bisnis mereka dalam 1-2 tahun ke depan. Selain itu, hampir setengahnya (48 persen) memperkirakan adanya "peningkatan" laba operasi pada tahun 2025 dibandingkan dengan tahun 2024.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
2). Ketakutan akan proteksionisme dan tarif : Sejumlah besar perusahaan (75 persen) merasa khawatir tentang meningkatnya proteksionisme. Paparan tarif AS sangat terkonsentrasi pada sektor manufaktur, mempengaruhi 64 persen produsen dibandingkan dengan 40 persen dari total seluruh perusahaan. Hal ini telah menyebabkan gangguan rantai pasok, permintaan penurunan harga dan peningkatan ketidakpastian perencanaan bagi perusahaan yang terdampak.
3). Peluang perdagangan bebas yang terlewatkan : Sekitar 70 persen perusahaan menyadari keberadaan FTA ASEAN dan RCEP. Namun, tingkat pemanfaatan FTA (termasuk RCEP) hanya mencapai 48 persen. Hal yang mengejutkan, 40 persen dari mereka yang tidak memanfaatkannya beralasan bahwa mereka "tidak tahu harus mulai dari mana".
Halaman Selanjutnya
4). Peralihan ke rantai pasok Intra-ASEAN : Kawasan ASEAN diidentifikasi sebagai wilayah paling umum untuk diversifikasi rantai pasok (93 persen), jauh melampaui Jepang (54 persen) dan Tiongkok (41 persen).

6 days ago
2











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479806/original/021929400_1768990958-makanan_beku_sehat.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5124902/original/069816200_1738908499-glass-water-ai-generated.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500390/original/054028400_1770863825-IMG01145.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)
