Ekspansi Nikel Global Rambah BEI, Perusahaan Hong Kong Siap Akuisisi Emiten Lokal

2 weeks ago 10

Senin, 23 Februari 2026 - 17:49 WIB

Jakarta, VIVA – Peta industri nikel dan baterai kendaraan listrik (EV) di Indonesia tidak lagi hanya diperebutkan di konsesi tambang Sulawesi atau Maluku, melainkan bergeser ke papan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI).

Terbaru, PT Berkah Prima Perkasa Tbk (BLUE) mengumumkan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Bersyarat atau Conditional Shares Purchase Agreement (CSPA), antara para pemegang sahamnya dengan Dragonmine Mining (Hong Kong) Limited yang akan menjadi pengendali baru perseroan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam keterbukaan informasi BLUE yang dikutip Senin, 23 Februari 2026, Dragonmine Mining dikabarkan berencana membeli 334,4 juta saham BLUE atau setara 80 persen dari seluruh saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh.

"Perkembangan ini merupakan kelanjutan proses akuisisi yang telah disampaikan perseroan sebelumnya pada November 2025," sebagaimana dikutip dari Keterbukaan Informasi tersebut, Senin, 23 Februari 2026.

Bijih nikel mentah yang siap diolah menjadi feronikel (Foto Ilustrasi).

Namun, siapakah Dragonmine Mining yang akan menjadi pengendali baru BLUE? Jika dilihat dari profil Dragonmine Mining yang merupakan perusahaan private berkantor pusat di Hong Kong, pemiliknya adalah Huayou Hongkong Limited. 

Meskipun BLUE belum memberikan keterangan lebih lanjut terkait identitas Dragonmine Mining, namun berdasarkan penelusuran dari berbagai sumber, Huayou Hongkong Limited merupakan anak usaha Zhejiang Huayou Cobalt Co.,Ltd, yang difokuskan sebagai unit investasi luar negeri di bidang pertambangan dan mineral.

Huayou memiliki lima pilar bisnis utama yang mencakup seluruh rantai industri material baterai lithium-ion, dimana industri nikel Indonesia menjadi salah satu sektor strategisnya. Perusahaan asal Tiongkok tersebut kian ekspansif di Indonesia dalam mengembangkan ekosistem baterai terintegrasi, salah satunya melalui Proyek Titan yang bekerjasama dengan Antam dan Indonesia Battery Corporation (IBC).

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia, Ezaridho Ibnutama mengatakan, terdapat potensi bagi BLUE untuk mengubah haluan model bisnisnya pasca perubahan pengendali.

Langkah ini berpotensi dapat memperbaiki kinerja perusahaan-perusahaan dengan performa rendah di Bursa Efek Indonesia pada masa dimana pengawasan masih minim, sehingga memungkinkan perusahaan dengan kualitas yang lebih baik untuk masuk melalui skema backdoor listing. Selain itu, BEI juga telah merilis regulasi baru yang memungkinkan perusahaan tercatat untuk mengubah kode saham (ticker) mereka.

Halaman Selanjutnya

"Sebagai referensi, sekitar 30 persen dari seluruh perusahaan di BEI saat ini mencatatkan kerugian bersih. Dengan adanya reformasi pasar modal yang mewajibkan porsi saham publik (free float) lebih tinggi berdasarkan ukuran kapitalisasi pasar, regulasi baru ini memicu kemacetan baru pada aksi IPO," ujarnya.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |