Fakta Ilmiah di Balik Penggunaan Plastik Polikarbonat

2 hours ago 2

Rabu, 13 Mei 2026 - 22:26 WIB

Jakarta, VIVA – Penggunaan galon guna ulang berbahan polikarbonat kembali menjadi sorotan setelah muncul kritik mengenai keamanan kemasan air minum yang masih mengandung Bisphenol A atau BPA. Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat soal kesehatan, keberadaan galon berbahan BPA dinilai mulai sulit diterima sebagian konsumen.

Selama puluhan tahun, galon polikarbonat menjadi standar utama dalam industri air minum dalam kemasan di Indonesia. Material ini dipilih karena kuat, transparan, dan dapat digunakan berulang kali dalam sistem isi ulang.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Namun di balik keunggulannya, polikarbonat diketahui mengandung BPA, senyawa kimia yang kerap dikaitkan dengan gangguan kesehatan apabila luruh ke dalam air minum. Risiko peluruhan disebut dapat meningkat akibat paparan panas, sinar matahari, proses pencucian berulang, hingga usia galon yang terlalu lama digunakan.

Sejumlah studi internasional menghubungkan paparan BPA berlebih dengan gangguan hormon, obesitas, diabetes, hingga masalah reproduksi. Meski tingkat bahayanya masih menjadi perdebatan di beberapa negara, tren global saat ini mulai bergerak menuju penggunaan kemasan bebas BPA.

Ketua Komunitas Konsumen Indonesia (KKI), David Tobing, menilai masyarakat kini mulai lebih kritis terhadap bahan kemasan yang digunakan dalam produk sehari-hari. Menurut dia, konsumen mempertanyakan alasan masih beredarnya galon berbahan BPA di tengah hadirnya alternatif kemasan yang diklaim lebih aman.

“Kalau harganya sama, konsumen merasa seharusnya mendapatkan standar keamanan yang sama juga,” ujarnya, dikutip Rabu 13 Mei 2026.

KKI juga menyoroti kondisi fisik galon guna ulang yang dinilai masih menjadi persoalan di lapangan. Berdasarkan laporan konsumen yang dihimpun organisasi tersebut, banyak masyarakat mengaku menerima galon yang sudah kusam, tergores, hingga retak halus akibat penggunaan berulang dalam waktu lama.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut David, kondisi galon yang menua tidak bisa dianggap sepele karena berhubungan dengan kualitas dan keamanan kemasan pangan. Ia menilai perlu ada pengawasan lebih ketat terkait usia pakai galon guna ulang yang beredar di masyarakat.

Sementara itu, sejumlah pakar polimer sebelumnya juga pernah mengingatkan bahwa galon polikarbonat memiliki batas penggunaan ideal. Faktor seperti panas berlebih, distribusi yang tidak tepat, dan proses pencucian berulang disebut dapat mempercepat degradasi material plastik.

Halaman Selanjutnya

Di sisi lain, produsen mulai memperkenalkan galon berbahan PET sebagai alternatif yang tidak menggunakan BPA dalam proses pembuatannya. Material PET selama ini lebih dikenal digunakan pada botol minuman dan dianggap memiliki risiko migrasi zat kimia yang lebih rendah.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |