Fitch Ratings Revisi Outlook Peringkat Utang Indonesia Jadi Negatif, Ini Alasannya

1 week ago 4

Rabu, 4 Maret 2026 - 13:39 WIB

Jakarta, VIVA – Lembaga pemeringkat global Fitch Ratings merevisi outlook atau prospek peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Namun, peringkat utang Indonesia masih dipertahankan di level BBB atau layak investasi atau investment grade.

Revisi outlook menjadi negatif mencerminkan meningkatnya kekhawatiran atas ketidakpastian kebijakan pemerintah. Fitch menilai sentralisasi pengambilan kebijakan yang semakin kuat berpotensi memengaruhi prospek fiskal jangka menengah, sentimen investor, serta ketahanan eksternal Indonesia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Fitch Ratings telah merevisi outlook terhadap Indonesia’s Long-Term Foreign-Currency Issuer Default Rating (IDR) ke negatif dari stabil, dan menegaskan peringkat IDR di BBB," tulis laporan Fitch dikutip di Jakarta, Rabu, 4 Maret 2026 

Lembaga itu juga menegaskan peringkat di level BBB didukung rekam jejak Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi, prospek pertumbuhan jangka menengah yang cukup baik, rasio utang pemerintah terhadap PDB yang relatif moderat, serta cadangan devisa (cadev) yang memadai.

Ada beberapa indikator kunci yang mendasari proyeksi Fitch. Pertama, risiko ketidakpastian kebijakan yang meningkat. Fitch memperkirakan pemerintah tetap berkomitmen menjaga defisit fiskal di bawah batas 3 persen dari PDB. Namun, target ambisius pertumbuhan ekonomi 8 persen dan peningkatan belanja sosial dinilai berpotensi mendorong pelonggaran kebijakan fiskal dan moneter yang lebih besar.

Risiko ini antara lain tercermin dari rencana peninjauan Undang-Undang (UU) Keuangan Negara dalam prioritas legislasi 2026. Jika kerangka fiskal, termasuk batas defisit dilonggarkan, maka secara material dinilai dapat melemahkan kredibilitas kebijakan serta meningkatkan ketergantungan pada pembiayaan bank sentral.

Kedua, tekanan belanja dan penerimaan negara. Fitch memperkirakan defisit fiskal Indonesia pada 2026 berada di kisaran 2,9 persen dari PDB, sedikit di atas target pemerintah 2,7 persen dan sama dengan proyeksi 2025.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Proyeksi tersebut didasarkan pada asumsi penerimaan negara yang lebih konservatif seiring perlambatan pertumbuhan dan dampak terbatas dari upaya peningkatan kepatuhan pajak. Belanja sosial diperkirakan meningkat, termasuk untuk program makan bergizi gratis (MBG) yang diproyeksikan mencapai sekitar 1,3 persen dari PDB.

Di sisi penerimaan, Fitch memproyeksikan rasio pendapatan pemerintah terhadap PDB rata-rata hanya 13,3 persen pada 2026-2027, jauh di bawah median negara berperingkat BBB sebesar 25,5 persen. Penerimaan pada 2025 melemah akibat kinerja pajak yang belum optimal, pembatalan kenaikan tarif PPN, serta pengalihan dividen BUMN ke dana kekayaan negara baru, Danantara.

Halaman Selanjutnya

Ketiga, risiko investasi di luar APBN. Danantara memiliki mandat untuk meningkatkan efisiensi BUMN dan mendorong pertumbuhan melalui investasi komersial di luar APBN. Tahun ini, dana tersebut berencana menginvestasikan sekitar 26 miliar dolar AS atau setara 1,7 persen dari PDB pada proyek hilirisasi mineral, energi, pangan, dan pertanian.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |