Jakarta, VIVA – Di tengah reli emas dan perak mencetak rekor tertinggi berturut-turut, ada satu mata uang turut mencuri perhatian pasar global. Franc Swiss melesat agresif dan kian menegaskan posisinya sebagai aset lindung nilai (safe haven) yang diminati investor dunia.
Kinclongnya Franc Swiss bersamaan memudarnya kepercayaan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan yen Jepang. Kondisi ini membuat investor berbondong-bondong masuk menyerok mata uang Swiss.
Sepanjang tahun 2026, Franc Swiss melonjak lebih dari 3 persen terhadap dolat AS. Pada perdagangan intraday Rabu, 28 Januari 2026, nilai tukar dolar AS jatuh ke level 0,7612 franc yang menjadi posisi terkuat hampir 14,5 tahun sejak Agustus 2011.
Penguatan franc terjadi bersamaan penguatan pesat harga emas dan perak yang juga mencetak rekor tertinggi. Situasi ini membuat franc Swiss diperlakukan sejajar dengan emas dan perak sebagai aset riil pelindung nilai.
![]()
Daya tarik franc Swiss bersumber dari stabilitas politik dan fiskal negaranya. Rasio utang pemerintah AS telah mencapai sekitar 120 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) atau lebih timggi dari rata-rata negara di zona Eropa di kisaran 90 persen.
Sebaliknya, rasio utang pemerintah Swiss hanya sekitar 40 persen. Neraca transaksi berjalan Swiss juga konsisten surplus di kisaran 7 persen hingga 10 persen terhadap PDB sehingga memperkuat kepercayaan bahwa nilai mata uangnya tidak akan anjlok saat krisis.
“Franc Swiss saat ini merupakan mata uang dengan daya simpan nilai terkuat di dunia," demikian pernyataan Bank investasi global, MUFG dan UBS dikutip dari Chosun Biz pada Kamis, 29 Januari 2026.
Wall Street Journal menyoroti pergeseran besar di pasar valuta asing. Penentu nilai mata uang kini bukan lagi seberapa banyak uang dicetak, melainkan seberapa dapat dipercaya sistem ekonomi dan institusinya.
Berbeda dengan masa lalu, permintaan terhadap franc Swiss saat ini tidak didorong oleh dana ilegal. Sejak tahun 2018, Swiss telah menerapkan pertukaran otomatis data keuangan dengan otoritas pajak global yang membuat praktik penyembunyian dana nyaris mustahil.
Para analis memperkirakan reli franc Swiss belum akan mereda dalam waktu dekat. Dengan catatan selama arah kebijakan dolar AS belum jelas dan risiko geopolitik masih tinggi maka mata uang ini diprediksi akan 'otomatis' terbang.
Halaman Selanjutnya
Namun, lonjakan franc Swiss menempatkan bank sentral negara tersebut dalam dilema. Mata uang yang terlalu kuat dapat menekan daya saing ekspor dan memicu risiko deflasi. Saat ini, inflasi Swiss berada di kisaran nol persen.

4 hours ago
1














