Gen Z Ogah Naik Jabatan dan Lembur, Work-Life Balance Jadi Prioritas

1 week ago 3

Kamis, 23 April 2026 - 07:40 WIB

Jakarta, VIVA – Di tengah budaya kerja modern yang identik dengan jam kerja panjang, peningkatan keterampilan (skill) tanpa henti, dan ambisi mengejar promosi, generasi Z (Gen Z) memiliki pandangan  berbeda terhadap arti kesuksesan di dunia kerja

Seorang karyawan Gen Z menjadi sorotan setelah menolak tawaran promosi jabatan karena tidak ingin terikat dengan jam kerja yang lebih panjang. Kisah yang dibagikan oleh pelatih karier (career coach), Simon Ingari, melalui akun X miliknya seketika viral dan memicu diskusi panjang terkait perubahan cara pandang generasi muda terhadap dunia kerja.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut Simon Ingari, peristiwa itu bermula ketika seorang manajer menawarkan promosi jabatan kepada salah seorang pekerja Gen Z untuk mengisi posisi manajerial. Posisi baru ini mengisyarakatkan jam kerja lebih panjang alias lembur di luar kewajiban 40 jam per minggu.

Alih-alih menerima tawaran emas ini, karyawan itu dengan tenang menolak promosi naik jabatan ini. Ia menegaskan, dirinya tidak tertarik untuk mengambil tanggung jawab tambahan yang mengorbankan waktu pribadi.

Ilustrasi Gen Z dan Milenial

Keputusan itu membuat sang manajer terkejut. Menurut sang Manajer, promosi dan pengembangan karier seharusnya menjadi tujuan umum setiap pekerja tetapi karyawan Gen Z ini tetap pada pendiriannya.

“Dia menjelaskan bahwa dirinya sudah nyaman dengan posisi saat ini dan sangat menghargai keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi,” tulis Simon Ingari di X dikutip dari The Economic Times pada Kamis, 23 April 2026.

Tentunya promosi jabatan ini sekaligus menawarkan kenaikan gaji, namun karyawan Gen Z yang diceritakan Simon Ingari mempertimbangkan konsekuensi lain. Mulai dari beban kerja lebih tinggi, tekanan yang meningkat serta berkurangnya waktu untuk kehidupan pribadi (work life balance). 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bagi Gen Z, manfaat yang ditawarkan tidak sebanding dengan pengorbanan yang harus dilakukan. Perdebatan bahkan sempat membuat suasana diskusi menjadi hening karena sang manajer kesulitan memahami sudut pandangnya.

Karyawan muda ini juga menegaskan, definisi sukses tidak sama bagi setiap orang. Jika sebagian orang menganggap kesuksesan adalah kenaikan jabatan dan karier yang cepat, maka sebagian lainnya memaknainya sebagai stabilitas, kebahagiaan, dan kualitas hidup yang lebih seimbang.

Halaman Selanjutnya

Fenomena ini menambah daftar panjang perubahan pola pikir Gen Z di dunia kerja. Kalangan yang lahir pada rentang rahun 1997 hingga 2012 ini sangat memperhatikan keseimbangan hidup sejajar dengan ambisi karier profesional. 

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |