Hadapi Tantangan Ekonomi Global, Seluruh Elemen Bangsa Didorong Tekankan Persatuan dan Kesatuan

12 hours ago 2

Rabu, 13 Mei 2026 - 17:04 WIB

Jakarta, VIVA – Kondisi pasar keuangan dan pasar modal Indonesia tengah menghadapi berbagai tantangan mulai dari anjloknya nilai tukar rupiah, hingga turunnya IHSG secara tajam hingga menyentuh level 6.700-an usai pengumuman rebalancing terbaru Morgan Stanley Capital International (MSCI). 

Padahal di satu sisi, pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 berhasil menorehkan catatan positif lantaran mencapai 5,61 persen, dan merupakan capaian yang terbaik sejak 10 tahun terakhir.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Karenanya, Anggota Komisi XI DPR RI, Ahmad Najib Qodratullah menilai, pentingnya saat ini mengedepankan persatuan dan kesatuan sesama anak bangsa, guna menghadapi dampak ekonomi yang ditimbulkan akibat ketidakpastian global.

Najib menekankan, rasa persatuan dan kesatuan sangat penting guna mencegah gangguan dari pihak-pihak luar, yang merasa tidak senang dengan berbagai capaian positif seperti misalnya soal pertumbuhan ekonomi RI.

“Indonesia menjadi salah satu negara di dunia yang memiliki pertumbuhan cepat. Ketika ekonomi suatu negara naik, yang diperebutkan bukan cuma pasar domestik, akses bahan mentah, jalur logistik, pengaruh politik, kontrol teknologi dan aliansi regional,” kata Najib dalam keterangannya, Rabu, 13 Mei 2026.

Lebih lanjut, Najib mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini juga mempunyai nilai strategis karena memiliki tiga hal sekaligus. Mulai dari populasi besar, sumber daya alam seperti nikel, batubara, sawit, hingga posisi maritim strategis mulai dari ALKI, Selat Malaka, hingga jalur Indo-Pasifik.

“Jadi jika ekonomi tumbuh stabil, Indonesia makin penting dalam peta persaingan antara United States, China, dan kekuatan regional lain,” ujarnya.

Namun, Najib tak menampik bahwa bentuk gangguan yang paling realistis terhadap Indonesia bukanlah invasi, melainkan bahwa Indonesia kerap mengalami gangguan non konvensional.

“Misalnya tekanan ekonomi seperti hambatan dagang, kampanye boikot komoditas, manipulasi harga komoditas ekspor hingga relokasi investasi ke negara pesaing,” kata Najib.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Indonesia sangat bergantung pada ekspor komoditas. Jika harga energi terguncang, efeknya cepat terasa pada fiskal dan rupiah,” ujarnya.

Selain itu, gangguan non konvensional lainnya seperti intervensi informasi baik disinformasi media sosial, pembelahan isu agama/suku, penggiringan opini anti-pemerintah dan sentimen pasar lewat rumor.

Halaman Selanjutnya

“Tujuannya bukan menjatuhkan negara secara militer, tetapi membuat keputusan ekonomi tersendat,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |