Harga Emas Dunia Meledak di Hari Pertama Bulan Ramadhan

2 weeks ago 11

Kamis, 19 Februari 2026 - 16:00 WIB

Jakarta, VIVA Harga emas dunia melonjak tajam di hari pertama puasa pada perdagangan Rabu, 19 Februari 2026. Lonjakan terjadi di tengah berbagai sentimen geopolitik global dan penantian pasar terhadap risalah rapat Federal Reserve (The Fed).

Harga emas spot melesat 2,6 persen ke level US$5.005,44 atau sekitar Rp 84,7 juta (estimasi kurs Rp 16.930 per dolar AS) per troy ons. Kenaikan ini menandai rebound dari penurunan sebelumnya, di mana emas anjlok hingga menyentuh harga US$4.841,74 per troy ons. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tak hanya emas, harga perak ikut terbang lebih tinggi. Logam mulia putih ini melonjak sekitar 6 persen menjadi US$77,97 atau sekitar Rp 1,31 juta per ons troy setelah  terkoreksi lebih dari 4 persen.

Dikutip dari The Economic Times, sentimen geopolitik mendongkrak harga emas hingga melampaui level US$5.000. Saat ini, pelaku pasar mencermati perkembangan perundingan damai antara Ukraina dan Rusia yang dimediasi Amerika Serikat (AS) di Jenewa. 

Ilustrasi emas batangan.

Photo :

  • VIVAnews/Muhamad Solihin

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy, menyebut diskusi akan berjalan alot lantaran  Rusia disebut memperlambat proses negosiasi. Di saat yang sama, Iran mengumumkan telah menyepakati prinsip-prinsip panduan dengan Washington untuk melanjutkan negosiasi nuklir, meskipun kesepakatan komprehensif dinilai masih jauh dari jangkauan.

Ketidakpastian geopolitik ini kembali mengangkat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai (safe haven), terutama menjelang publikasi risalah rapat bank sentral AS.

Managing Director The Gold Bullion Company berbasis di Inggris, Rick Kanda, menilai permintaan ETF Asia menjadi faktor kunci pergerakan harga emas global. Koreksi harga emas bisa memicu gelombang aksi jual yang menyebabkan penurunan dalam jangka pendek.

“Permintaan investasi untuk ETF emas dari Asia baru-baru ini menjadi pendorong kritis harga emas. Jika permintaan ini melambat, emas akan sangat rentan,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bank Sentral Tiongkok (PBOC) terpantau terus melakukan pembelian emas besar-besaran meski volatilitas meningkat. PBOC tercatat secara konsisten menambah cadangan emas selama 15 bulan berturut-turut.

Menurut Kanda, bank sentral Tiomngkok memiliki perspektif jangka panjang dan tidak reaktif terhadap fluktuasi harga jangka pendek seperti investor ETF. Permintaan stabil ini berpotensi menjadi bantalan jika terjadi koreksi.

Halaman Selanjutnya

Jika bank sentral terus membeli secara agresif, Kanda memperkirakan harga emas akan mendekati US$6.000 atau Rp 101,5 juta per troy ons pada akhir tahun 2026. Selama tahun 2025, logam mulia berwarna kuning naik sebesar 64 persen ditopang meningkatnya perang tarif, ketidakpastian geopolitik, dan pergeseran strategi cadangan global.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |