Hasil Riset: China Menang Telak, Pangsa Mobil Listrik di Indonesia Tembus 60 Persen

4 hours ago 3

Sabtu, 7 Maret 2026 - 09:02 WIB

Jakarta, VIVA - Dominasi mobil listrik buatan China di pasar global makin tak terbendung. Tapi jangan salah, tidak semua negara “ramah” terhadap merek Negeri Tirai Bambu. Ada yang pasarnya nyaris dikuasai total, ada juga yang pintunya seperti masih tertutup rapat.

Seperti dilansir VIVA Otomotif berdasar terbaru dari Visual Capitalist yang mengolah angka Benchmark Mineral Intelligence mengungkap peta kekuatan mobil listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) produksi China di berbagai negara sepanjang 2018–2025. Hasilnya bikin melongo.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Meksiko jadi contoh paling ekstrem. Pada 2025, sebanyak 89,9 persen mobil listrik yang terjual di negara tersebut ternyata buatan China. Bandingkan dengan 2023 yang masih 28,3 persen. Dalam dua tahun saja, lonjakannya brutal. Secara volume, penjualan BEV produksi China di Meksiko melejit dari 3.145 unit menjadi 53.742 unit.

Indonesia? Jangan kaget. Pangsa mobil listrik buatan China di Tanah Air juga meroket. Pada 2023, kontribusinya baru 3,2 persen. Tapi pada 2025, angkanya langsung melonjak ke 61,6 persen. Dari sisi volume, penjualannya melesat dari 543 unit menjadi 64.252 unit. Artinya, lebih dari separuh mobil listrik yang beredar di Indonesia kini berasal dari pabrikan China.

Tak cuma di Asia Tenggara, Eropa pun mulai “tergoda”. Inggris mencatat 26 persen penjualan BEV pada 2025 adalah mobil buatan China, setara 129.069 unit. Italia bahkan lebih tinggi, 37 persen. Spanyol menyentuh 35,9 persen, dan Portugal 30,8 persen. Australia juga tak kalah agresif, dengan 79,5 persen penjualan BEV berasal dari China. Israel bahkan tembus 84,8 persen.

Sementara itu, di kandangnya sendiri, China tetap tak tersentuh. Pada 2025, penjualan BEV di pasar domestik mencapai 7.968.936 unit. Hampir seluruhnya tentu produksi dalam negeri. Skala produksi raksasa ini yang kemudian mendorong ekspansi masif ke luar negeri.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tapi ada satu negara yang masih “kebal”: Amerika Serikat. Meski pasar mobil listriknya besar, pangsa BEV buatan China di sana hanya 0,5 persen pada 2025, atau sekitar 6.070 unit. Tarif tinggi, kebijakan perdagangan, serta tensi geopolitik jadi tembok tebal yang sulit ditembus.

Fenomena ini menunjukkan satu hal: ekspansi mobil listrik China sangat tergantung pada kebijakan dan keterbukaan pasar tiap negara. Negara berkembang seperti Indonesia dan Meksiko jadi ladang subur karena harga kompetitif dan pilihan model yang variatif. Di sisi lain, pasar seperti AS masih penuh hambatan.

Halaman Selanjutnya

Bagi konsumen Indonesia, kondisi ini jelas menguntungkan dalam jangka pendek. Pilihan model makin banyak, harga lebih kompetitif, dan teknologi terus berkembang. Namun di sisi industri, persaingan akan makin panas.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |