Jakarta, VIVA – Perkembangan kecerdasan buatan atau AI kini tidak hanya mengubah dunia digital, tetapi juga mulai memengaruhi kebutuhan infrastruktur global. Di tengah meningkatnya penggunaan AI, muncul satu ide yang terdengar seperti film fiksi ilmiah, membangun pusat data AI di luar angkasa. Meski terdengar mustahil, gagasan tersebut mulai dianggap serius oleh banyak perusahaan teknologi besar, termasuk milik Elon Musk.
Selama ini, banyak orang menganggap internet dan teknologi cloud terasa “ringan” dan tidak memiliki dampak fisik besar. Padahal, di balik layanan AI modern terdapat pusat data raksasa yang membutuhkan listrik, pendingin, lahan luas, hingga sistem transmisi energi dalam jumlah besar.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Teknologi AI ternyata tidak hanya berjalan lewat software. Semua aktivitas seperti membuat gambar AI, bertanya pada chatbot, atau menjalankan model bahasa membutuhkan server superbesar yang bekerja tanpa henti.
Menurut laporan International Energy Agency (IEA) yang melansir dari Tom's Guide, konsumsi listrik pusat data global diperkirakan menembus lebih dari 1.000 terawatt-jam pada akhir 2026. Angka itu setara dengan total konsumsi listrik tahunan Jepang, salah satu negara dengan ekonomi terbesar di dunia.
Kondisi tersebut mulai memicu penolakan dari masyarakat di berbagai wilayah. Banyak komunitas khawatir pembangunan pusat data AI akan meningkatkan tagihan listrik, menghabiskan air untuk pendingin, hingga merusak lingkungan sekitar.
Di beberapa wilayah Amerika Serikat seperti Utah, proyek pembangunan pusat data AI bahkan memunculkan konflik soal penggunaan lahan dan dampak ekologis.
Karena itulah, ide memindahkan sebagian infrastruktur AI ke luar angkasa mulai dipandang sebagai solusi alternatif.
Kenapa Luar Angkasa Dianggap Menarik?
Konsep pusat data AI orbital menawarkan satu keuntungan besar: energi matahari tanpa henti.
Di luar angkasa, satelit bisa menerima sinar matahari secara lebih stabil dibanding panel surya di Bumi. Tidak ada malam, awan, atau cuaca buruk yang menghalangi penyerapan energi.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Selain itu, pusat data di orbit juga tidak membutuhkan ribuan hektare lahan yang sering memicu konflik dengan warga sekitar.
Laporan menyebut Google tengah berdiskusi dengan SpaceX terkait proyek bernama Project Suncatcher.
Halaman Selanjutnya
Proyek ini disebut bertujuan menguji infrastruktur cloud AI berbasis satelit bertenaga surya menggunakan chip Tensor Processing Unit milik Google sendiri.

13 hours ago
1











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364675/original/098242200_1759123308-padel_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5555113/original/019639800_1776143107-Mahasiswa_UI_diduga_lakukan_pelecehan_seksual__2_.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5556554/original/020780300_1776253850-BPJS_Kesehatan.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3301494/original/038090600_1605800346-Tips.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5030100/original/095728600_1732950329-ciri-ciri-urine-penderita-diabetes.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5457086/original/001907200_1766985704-mohammad-o-siddiqui-uXIx0Ss3b-c-unsplash.jpg)