Jakarta, VIVA – Industri pendidikan utamanya lembaga pendidikan atau sekolah swasta, masih dihadapkan pada sejumlah tantangan yang memfokuskan pola didik yang berupaya membangun kesejahteraan emosional bagi para peserta didiknya.
Pendekatan inilah yang juga menjadi dasar bagi sekolah-sekolah yang berupaya membangun pengalaman belajar yang lebih baik, salah satunya adalah North Jakarta Intercultural School (NJIS) yang menempatkan kesejahteraan emosional (emotional wellbeing) sebagai faktor kunci dalam pembelajaran.
Head of School NJIS, Ezra Alexander menegaskan, pembelajaran yang bermakna tidak dapat dilepaskan dari kondisi emosional siswa.
"Kami melihat belajar adalah proses yang lebih dari pencapaian akademik, tetapi juga sebagai pengalaman hidup anak di sekolah," kata Ezra dalam keterangannya, Selasa, 27 Januari 2026.
Menurut Ezra, kurikulum memiliki peran besar dalam membentuk pengalaman tersebut. Karena itu, NJIS memilih Kurikulum International Baccalaureate (IB), yang sejak awal dirancang untuk menyeimbangkan tantangan intelektual dengan refleksi dan rasa aman emosional.
“Kurikulum yang kami terapkan memberi ruang bagi setiap anak untuk merasa cukup aman berkata ‘aku belum bisa’, lalu cukup percaya diri untuk mencoba lagi. Di situlah pembelajaran yang sesungguhnya terjadi,” ujar Ezra.
Dia menegaskan, sekolah perlu hadir sebagai ruang aman yang menghargai proses, tidak memberi stigma pada kesalahan, serta tidak memuja capaian akademik. Dalam pandangannya, masa depan pendidikan harus dirancang untuk menjawab kebutuhan dasar emosional dalam membentuk pribadi anak secara menyeluruh.
“Pendidikan ke depan tidak bisa berjalan timpang, ia harus menyeimbangkan kemampuan intelektual dengan kesadaran diri, kematangan emosional, dan nilai-nilai kemanusiaan agar anak benar-benar tumbuh sebagai manusia seutuhnya,” ujarnya.
Hal ini juga turur diamini oleh psikolog anak, Anastasia Satriyo, M.Psi. Dia mengatakan, di tengah tuntutan akademik yang kian tinggi, sekolah dan orang tua kerap berlomba mengejar nilai, ranking, dan target capaian.
Namun, di balik angka-angka tersebut, ada satu faktor penting yang sering luput diperhatikan, yaitu rasa aman dan kenyamanan emosional anak. Tanpa itu, anak justru bisa kehilangan semangat di sekolah.
“Otak anak tidak bisa belajar optimal saat ia sedang dalam situasi bertahan hidup secara emosional. Situasi emosional ini menjadi kunci untuk memahami mengapa banyak anak tampak sulit fokus, mudah cemas, atau kehilangan minat belajar di sekolah," kata Anastasia.
Halaman Selanjutnya
Dia menjelaskan, rasa aman berarti saat anak merasa diterima, tidak dihakimi, dan tidak ditakuti, sehingga otaknya berada dalam kondisi siap belajar. Di fase ini, bagian otak yang berperan dalam berpikir, memahami, dan memecahkan masalah dapat bekerja dengan baik. Anak lebih rileks, berani mencoba, dan tidak takut melakukan kesalahan.

10 hours ago
10















