Jakarta, VIVA - Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi sorotan pelaku pasar melihat penurunan drastis dalam sepekan terakhir. Saham blue chip yang biasanya berada di kisaran 8.000 terjun bebas ke bawah area tersebut.
Koreksi mulai terlihat sejak sesi perdagangan tanggal 21 Januari 2026. Saham BBCA yang dibanderol di harga 8.000 anjlok 4,06 persen atau 325 poin ke posisi 7.675 pada sesi pertama perdagangan tanggal 22 Januari 2026.
Penurunan signifikan terjadi kembali pada tanggal 26 Januari 2026, dimana saham BBCA rontok 400 poin atau 5 persen menjadi 7.600. Saham big caps ini sempat berbalik menguat ke level 7.650, tetapi tergerus ke area 7.500 pada penutupan perdagangan Selasa, 27 Januari 2026.
Direktur Utama BCA, Hendra Lembong, memberikan penjelasan terkait tren koreksi yang melanda saham perseroan. Menurutnya, fluktuasi saham BBCA merupakan hal wajar dan manajemen perseroan hanya bisa menjaga kinerja sebaik mungkin.
Dalam kontrol kita adalah memastikan tentu performance kita bisa sebaik-baiknya. Tapi kalau harga saham (BBCA) normal, saham itu naik turun," tutur Hendra saat konferensi pers paparan kinerja tahunan perseroan di Jakarta pada Selasa, 27 Januari 2026.
Ia menyampaikan, salah satu penggerak harga saham BBCA adalah aksi investor asing. Pasalnya, mayoritas saham BBCA dimiliki oleh investor asing sebanyak 70 persen sampai 80 persen.
"Investor asing lebih mempertimbangkan situasi global. Alih-alih melihat prospek ekonomi Indonesia ke depannya," pungkas Hendra.
Bitcoin Ambruk Sentuh Level US$86.000 Jelang Keputusan Suku Bunga The Fed
Harga Bitcoin tertekan jelang keputusan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed. Koreksi sebabkan harga sentul level US$86.000 pada awal pekan keempat
VIVA.co.id
26 Januari 2026

10 hours ago
9















