Senin, 23 Maret 2026 - 16:34 WIB
VIVA –Sabtu lalu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran dalam waktu 48 jam jika negara itu tidak membuka sepenuhnya Selat Hormuz.
“Jika Iran tidak MEMBUKA SEPENUHNYA, TANPA ANCAMAN, Selat Hormuz dalam 48 JAM sejak saat ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit LISTRIK mereka, dimulai dari yang terbesar terlebih dahulu!” tulis Trump di Truth Social pada Sabtu malam.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Menanggapi ancaman tersebut, juru bicara militer Iran pada Minggu mengatakan bahwa Iran akan membalas setiap serangan terhadap pembangkit listriknya dengan menargetkan fasilitas energi yang terkait dengan Amerika Serikat di kawasan.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, juga menulis di platform X bahwa jika pembangkit listrik Iran diserang, maka infrastruktur vital, infrastruktur energi, dan fasilitas minyak di seluruh kawasan Timur Tengah tempat markas militer AS akan dihancurkan, demikian seperti mengutip laman TIME, Senin 23 Maret 2026.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan bahwa Selat Hormuz akan ditutup sepenuhnya ika terjadi serangan terhadap jaringan energi Iran, dan tidak akan dibuka kembali sampai pembangkit listrik mereka dibangun kembali.
Iran sebelumnya juga pernah mengancam akan menyerang infrastruktur energi negara-negara Teluk jika fasilitasnya sendiri diserang. Kantor berita semi-resmi Tasnim yang berafiliasi dengan IRGC bahkan merilis daftar perusahaan teknologi besar AS di Israel dan kawasan Teluk yang disebut akan menjadi target jika perang infrastruktur pecah, termasuk kantor Google, Microsoft, Palantir, IBM, Nvidia, dan Oracle.
Perang energi di Teluk
Ancaman Trump untuk memperluas serangan ke infrastruktur sipil Iran muncul hanya dua hari setelah ia menyatakan kemenangan dalam perang melawan Iran yang dimulai pada 28 Februari melalui rentetan serangan udara AS-Israel di seluruh negeri.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Saya pikir kita sudah menang. Kita telah melumpuhkan angkatan laut mereka, angkatan udara mereka, pertahanan udara mereka, semuanya. Kita bebas bergerak… Secara militer, mereka sudah selesai,” ,” katanya kepada wartawan di luar Gedung Putih pada 20 Maret lalu.
Potensi aksi saling balas terhadap infrastruktur energi di kawasan ini dikhawatirkan bisa memperburuk kondisi yang oleh Badan Energi Internasional disebut sebagai gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global. Akibat serangan ini diketahui harga rata-rata bensin di Amerika Serikat mengalami kenaikan hingga tercatat mencapai 3,942 dolar per galon pada akhir pekan, menurut AAA. Minyak mentah Brent juga melonjak hampir 50% menjadi 112 dolar per barel sejak awal perang.
Halaman Selanjutnya
Dalam beberapa hari terakhir, Trump beberapa kali mengubah sikap mulai dari menyerukan pembentukan koalisi internasional untuk membuka Selat Hormuz, menyatakan AS akan membukanya, hingga mengatakan bahwa selat itu akan terbuka dengan sendirinya.

4 hours ago
1











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)
