IRGC Sebut Netanyahu dan Pejabat Israel Ngumpet di Bunker saat Tel Aviv Dihujani Rudal Iran

1 week ago 4

Senin, 2 Maret 2026 - 08:00 WIB

VIVA – Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan bahwa mereka telah memulai gelombang ketujuh dan kedelapan Operasi True Promise 4, Minggu, 1 Maret 2026, sebagai tanggapan terhadap agresi yang sedang berlangsung oleh Amerika Serikat dan rezim Israel.

"Sejak beberapa saat yang lalu, serangan balasan skala besar telah dimulai terhadap target musuh," kata IRGC dalam sebuah pernyataan, Minggu, sekitar pukul 16.00 waktu setempat dilansir Tasnim

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Rincian lebih lanjut—termasuk gambar dan pembaruan—akan segera dirilis oleh pejabat Iran.

Balasan Iran ini menyusul dua hari agresi terhadap negara tersebut, yang telah menewaskan lebih dari 200 orang, termasuk lebih dari 145 anak-anak dalam serangan terhadap sebuah sekolah dasar di Provinsi Hormozgan serta pejabat Iran, menurut Palang Merah.

Sebagai tanggapan, IRGC telah melakukan empat gelombang besar serangan presisi terhadap situs militer di wilayah pendudukan—termasuk Tel Aviv dan Haifa—dan memaksa pemukim Israel untuk berlindung di bawah tanah. 

Laporan menunjukkan bahwa pejabat senior, termasuk perdana menteri Benjamin Netanyahu, telah berlindung di bunker yang diperkuat karena meningkatnya ancaman.

IRGC juga menargetkan pangkalan-pangkalan yang dioperasikan AS di seluruh Asia Barat, termasuk Armada Kelima di Bahrain, bersama dengan instalasi-instalasi penting di Qatar dan UEA karena peran mereka dalam mendukung agresi terhadap Iran.

Eskalasi ini terjadi di tengah negosiasi nuklir tidak langsung antara Teheran dan Washington, yang dimediasi oleh Oman. Putaran pembicaraan terbaru, yang diadakan di Jenewa pada hari Kamis, diakhiri dengan kedua belah pihak mengakui "kemajuan signifikan"—upaya diplomatik yang kini dibayangi oleh peningkatan aksi militer.

Iran sebelumnya menuding AS dan Israel telah melakukan aksi terorisme dan pembunuhan terencana (assassination) terhadap Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam pernyataan resmi pada Minggu, Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan serangan gabungan kedua negara itu pada Sabtu, 28 Februari 2026, melanggar prinsip dan norma hukum internasional, termasuk Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

"Tindakan teroris oleh AS dan rezim Zionis (Israel), yang melakukan pembunuhan terencana terhadap Pemimpin Tertinggi serta pejabat tinggi lainnya melalui agresi militer terhadap keutuhan wilayah dan kedaulatan nasional negara (Iran), merupakan serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap seluruh prinsip dan norma internasional," sebut pernyataan itu.

Halaman Selanjutnya

Menurut pemerintah Iran, penggunaan kekuatan militer terhadap pimpinan negara berdaulat tidak dapat dibenarkan dalam sistem hukum internasional.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |