Jakarta, VIVA – Penguatan kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi salah satu kunci dalam mendukung program peningkatan gizi dan kesehatan preventif di Indonesia.
Hal itu mengemuka dalam peluncuran laporan kesehatan terbaru yang diselenggarakan EU-ASEAN Business Council (EU-ABC) di Jakarta.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Forum tersebut mempertemukan perwakilan pemerintah, akademisi, tenaga kesehatan, dan pelaku usaha untuk membahas berbagai upaya mendukung agenda kesehatan nasional, termasuk pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), penurunan angka stunting, hingga penguatan layanan kesehatan preventif.
Direktur Eksekutif EU-ASEAN Business Council, Chris Humphrey, menilai berbagai program yang dijalankan pemerintah menunjukkan komitmen dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Menurut dia, tantangan berikutnya adalah memastikan implementasi program berjalan secara efektif melalui kolaborasi berbagai pihak.
"Upaya Indonesia untuk meningkatkan gizi dan kesehatan masyarakat, mulai dari inisiatif berskala besar seperti program Makan Bergizi Gratis hingga berbagai upaya penurunan stunting, menunjukkan bahwa prioritas yang ditetapkan sudah berada di jalur yang tepat. Tantangan utamanya kini adalah memastikan implementasi berbagai program tersebut dapat berjalan secara efektif dalam skala yang luas. Seiring dengan langkah Indonesia dalam menjalankan berbagai inisiatif gizi yang ambisius seperti MBG, kolaborasi multipihak akan menjadi kunci untuk menerjemahkan ambisi kebijakan menjadi hasil yang terukur. Kolaborasi antara pemerintah, sektor industri, akademisi dan masyarakat sipil dapat membantu memperkuat ketahanan gizi, meningkatkan kesehatan masyarakat serta membangun ketahanan ekonomi jangka panjang," ujar Chris, Jumat, 3 Juli 2026.
Laporan bertajuk Health, Nutrition & Lifestyle: Boosting ASEAN's Health and Economic Resilience Through a Life-Course Framework tersebut menyoroti pentingnya pendekatan berbasis siklus kehidupan (life-course approach) dalam membangun kesehatan masyarakat sejak usia dini hingga lanjut usia.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dalam laporan itu, ketahanan gizi, penerapan gaya hidup sehat, dan penguatan layanan kesehatan preventif disebut sebagai tiga aspek yang dapat mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Sementara itu, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan menilai kolaborasi berbagai pemangku kepentingan tetap menjadi bagian penting dalam mendukung pencapaian target kesehatan nasional. Hal itu diungkap Sri Ridha Hasanah dari Direktorat P2PTM Kementerian Kesehatan RI.
Halaman Selanjutnya
"Jika kita memiliki tujuan kesehatan masyarakat yang sama, maka selalu ada ruang untuk berkolaborasi. Kami tidak memandang pertumbuhan ekonomi dan kesehatan masyarakat sebagai dua hal yang saling bertentangan. Sebaliknya, keduanya dapat berjalan beriringan untuk mencapai tujuan kesehatan masyarakat yang lebih baik," kata Sri.

2 hours ago
1










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8004128/original/059258800_1780843343-word_media_image4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8256068/original/018149700_1781146804-20260609_153019.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8259900/original/052275700_1781518574-WhatsApp_Image_2026-06-15_at_17.01.22.jpeg)