Konflik Iran dan AS–Israel Guncang Pasar, BEI Imbau Investor Atur Ulang Strategi Investasi

1 week ago 7

Selasa, 3 Maret 2026 - 14:35 WIB

Jakarta, VIVAEskalasi konflik di Timur Tengah antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel dinilai memberikan tekanan signifokan terhadap pasar keuangan global, tidak terkecuali Indonesia. Dalam situasi ini, investor diminta untuk menyesuaikan kembali strategi investasi guna meminimalisir kerugian. 

Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, mengimbau investor untuk tetap rasional dalam menyesuaikan strategi investasi di tengah panasnnya tensi geopolitik. Jeffrey menegaskan, penyesuaian dilakukan sebagai upaya menghadapi gejolak global berpotensi memengaruhi sentimen pasar dalam jangka pendek. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Kami menghimbau investor tetap rasional dan selalu memperhatikan fundamental," ujar Jeffrey dikutip dari Antara pada Selasa, 3 Maret 2026.

Ia juga mengingatkan pentingnya menyesuaikan strategi dengan profil risiko masing-masing investor. Menurutnya, setiap keputusan investasi harus mempertimbangkan toleransi risiko agar tetap sejalan dengan tujuan keuangan jangka panjang.

"Sesuaikan strategi investasi dengan toleransi risiko masing masing investor," tambah Jeffrey.

Tekanan pasar sudah terlihat pada perdagangan awal pekan, Senin, 2 Maret 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah 23,95 poin atau 0,29 persen ke level 8.211,31 berlanjut hingga penutupan dengan penurunan lebih dalam sebesar 2,65 persen atau 218,65 poin menjadi 8.016,83. 

Kabar baiknya, IHSG berangsur pulih dengan mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,03 persen atau 2,71 poin ke level 8.019,54 pada sesi pertama perdagangan Selasa, 3 Maret 2026. Bursa saham di kawasan Asia juga bergerak di zona merah seiring meningkatnya tensi geopolitik.

Di kawasan Timur Tengah, gejolak bahkan memicu langkah ekstrem. Bursa Kuwait sempat menghentikan perdagangan, sementara Uni Emirat Arab (UEA) menutup pasar sahamnya pada Senin (2/3) dan Selasa (3/3).

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Konflik memuncak setelah AS dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap sejumlah target strategis Iran dalam operasi bertajuk Operation Epic Fury. Serangan itu menyasar kompleks militer serta fasilitas yang diduga terkait program rudal dan nuklir Teheran.

Iran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal balistik ke sejumlah negara yang menjadi basis pasukan AS atau sekutunya di kawasan Teluk, termasuk Bahrain, Qatar, Kuwait, Arab Saudi, Yordania, dan UEA. Aksi saling serang ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.

Halaman Selanjutnya

Salah satu risiko utama yang menjadi perhatian pelaku pasar adalah perkembangan di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi rute transit sekitar 20–25 persen pasokan minyak mentah dan LNG dunia setiap hari. Jika jalur ini terganggu atau bahkan ditutup, pasar energi global berpotensi terguncang.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |